Saat rasa terhalang oleh ketidak mungkinan hanya ada satu cara yang bisa dilakukan, berdoa agar suatu saat menjadi mungkin.
Langit sore kali ini menemaniku menunggu seseorang di rumah Allah, sedikit cemas karena seharian penuh tidak melihat sosok yang ditunggu-tunggu berseliweran seperti hari-hari biasanya. Bersama gurauan teman-teman kampusku, aku mencari-cari tanda kehadiran orang itu. Satu menit, dua menit, lima menit, lima belas menit, ah biasanya dia selalu muncul disaat-saat waktu sholat Ashar seperti ini, tapi hari ini tidak.
Ntah pada menit keberapa, laki-laki dengan cara berjalan yang khas, yang sudah aku hafal betul cara berjalannya benar-benar muncul. Aku mendongak, tersenyum dan menunggunya berjalan ke arah rumah Allah tempat aku menunggunya. Aku melihatnya berhenti di sekumpulan orang yang ramai, memang dia adalah laki-laki yang pandai bergaul menurutku. Aku selalu tidak pernah bosah melihat caranya berbicara dan memulai percakapan dengan orang lain, apalagi caranya berbicara dan berdialog menggunakan bahasa Inggris, aku sungguh tidak pernah bosan.
Lama aku memandangnya dari kejauhan, dia tidak beranjak dari tempat berhentinya sekarang. Hingga pada menit ke-ntahlah, aku sudah tidak menghitung menit-menit, dan detik-detik yang berdetak di jam tangan milikku, laki-laki itu berjalan. Dia berjalan lurus, berbelok dan.... Tunggu-tunggu, dia tidak sendirian. Dia bersama seorang perempuan yang berjalan di belakangnya, laki-laki itu membawa sebuah helm yang aku yakin betul bahwa itu helm milik perempuan itu. Dan aku tahu betul, lelaki yang ku tunggu tidak berjalan ke arah rumah Allah tempat aku menunggunya.
Sore ini, aku melihat dua orang manusia berbeda jenis, berdua di depan mataku, diantara capung-capung yang beterbangan, menaiki sepeda motor yang sama, berjalan menjauh dari mataku, membungkamkan guyonan-guyonan bersama teman-temanku.
Ketika rasa kagum membuncah tak karuan. Ketika rasa kagum itu berubah menjadi lebih dari sekedar kata "kagum". Dan ketika keadaan berkata bahwa tak mungkin untuk menyatukan rasa yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Mungkin salah satu pilihannya adalah berdoa agar rasa ini berada pada tempat yang tidak pernah salah untuk ditempati, berdoa agar kemungkinan-kemungkinan terbaik dan terburuk yang terjadi tidak membuat lupa diri.
Surabaya, 9 Januari 2015
Pengagum Rahasiamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar