Hari ini, langitku di Surabaya mendung. Tak seperti biasa, jika langit mendung aku selalu senang dan berlari ke teras belakang untuk menikmatinya sebentar. Tapi hari ini tidak, aku tidak melakukan hal yang sama dengan biasanya. Aku memilih berkutat dengan tugas-tugas kuliahku yang sedang gencar-gencarnya mengejarku untuk segera diselesaikan. Ditemani alunan musik dari telepon genggamku aku mencoba berkonsentrasi di depan laptop mungil berwarna merah dan selembar kertas polio bersama bolpoin berwarna hijau ku. Tapi ah, konsentrasiku buyar ketika aku ingat dua malam yang lalu kita bertengkar. Selalu seperti ini. Aku tidak bisa menjadi profesional saat kita sudah tidak lagi mesra seperti biasa.
Satu lagi keluhanku, tentang kesibukanmu. Ya, kesibukanmu yang membuat aku tersingkir dan terlupakan. Bahkan sms-smsmu pun jarang aku terima lagi. Aku benci menunggu, dan kamu tahu itu.
Semalam, aku menunggumu hingga larut malam bahkan hingga aku tertidur. Menunggu smsmu. Bahkan aku menunggu kamu sms meminta maaf bahwa kamu telah melupakan aku sejenak karena kesibukanmu yang super itu. Tapi nyatanya aku tak menerima sms yang aku harapkan. Aku kecewa.
Ntah apa yang ada dipikiranku malam tadi, aku merasa sangat sepi. Tanganku bergerak dengan cara tiba-tiba dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang yang terlupakan 2 tahun terakhir ini. Dan nyatanya, aku membutuhkannya saat kamu meninggalkanku seperti ini. Ya, mungkin aku berdosa. Tapi, otakku yang mengerjakan semuanya. Aku tak menghendakinya.
Aku di buat tertawa olehnya, bukan olehmu. Ah, aku takut. Aku takut kamu tergantikan. Aku takut dia mengambilnya lagi sayang. Harapanku satu-satunya, kamu yang lebih cepat mengambilku, bukan dia.
Sayang, maafkan. Aku tidak bermaksud melukai atau apapun itu. Aku masih menyimpanmu di hati yang paling dalam. Aku masih menjadikanmu penguasa yang berhak memiliki aku. Dia hanya secuil memori yang ingin aku buka saat aku merasa sepi. Dia bukan lagi hati yang aku jaga.
Sayang, mengertilah. Aku lelah menunggumu. Aku lelah menunggu kita bercanda. Berdirilah sayang, hampiri aku. Bawa aku kemana pun yang kamu suka. Dan peluk tubuhku dari belakang lagi seperti dulu. Aku menunggumu sayang. Aku mohon, mengertilah...
Sabtu, 26 April 2014
Rabu, 23 April 2014
Aku, Kamu, dan Bingkisan Rindu.
Tentang kata yang sulit di ungkapkan sekarang. Kata yang membuatku hanya bisa terdiam menunduk lalu memejamkan mata dan menangis. Rindu. Ya, kata itu yang membuat aku menangis tadi siang, ketika teman-temanku sedang asyik-asyiknya menyanyikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan siang tadi. Ntah apa yang terjadi. tidak seperti biasanya rindu ini sedemikian menguasai emosiku.
Tentang kita yang selama ini jauh. Dan sekarang sangat jauh karena kesibukanmu dan kesibukanku yang akhirnya menjadikan kita seperti tidak pernah ada lagi. Yang ada hanya kamu dan kesibukanku sedangkan aku dan rutinitasku, bukan lagi KITA dan cerita kita. Aku terlalu berharap kita bisa saling bercuap-cuap lewat telepon genggam kita masing-masing. Kita saling bergurau tanpa bersua, menghabiskan ribuan pulsa hanya untuk melampiaskan rindu. Namun sekarang, ringtone hpku pun jarang berbunyi dan pulsaku pun masih saja tetap utuh. Yang ada hanya pesan singkat-pesan singkat yang sangat singkat sekali. Aku muak....
Aku adalah perindu yang baik, aku selalu membawanya, menggenggamnya kemana-mana tanpa ku lepas sedikitpun. Aku bersabar menanti waktu kepulanganku dan bertemu kamu. Tapiiiii.... Apakah aku akan bertemu kamu nantinya saat aku pulang ? Sedangkan kamu masih saja berkutat dengan kesibukanmu. Aku tak mengerti mengapa semua harus terjadi. terhimpit rindu yang mendalam dan aku tidak bisa melepaskan rindu ini kepada siapapun.
Tentang rindu yang selama ini kita agung-agungkan. Tentang rindu yang selama ini kita jaga. Tentang rindu yang selama ini kita genggam. Aku masih saja sama, menyimpannya dalam sebuah tempat yang teraman dan akan aku berikan padamu nanti saat kita bersua.
Surabaya, 23 April 2014.
Tentang rindu yang terbungkus rapi di dalam hati.
Untukmu rindu ini ku persembahkan.
Sabtu, 12 April 2014
Kita dan Rindu...
Saing ini, sepertinya langit Surabaya sedang bersahabat denganku. Langit yang sedikit mendung tanpa cahaya sang surya. Memberi kesan tenang saat aku mendongak ke atas, aku menikmati siang ini di teras atas sambil berusaha menghadirkan senyumku sebelum aku masuk lagi ke kamar mungilku dan menghabiskan airmataku untuk merangkai bayanganmu.
Sesekali aku melihat telepon genggamku, menunggu pesan singkat darimu. Tetapi sama saja, telepon genggamku tidak ada gambar pesan seperti saat ada sms masuk darimu. Kamu dimana ? aku rindu...
Aku menunggu, aku mengirim pesan singkat yang aku tujukan padamu berkali-kali. Tapi, balasan yang aku tunggu tak kunjung datang.
Sejak pertengkaran semalam, bahkan sejak pertengkaran malam-malam sebelumnya. Aku merasa kita mulai jauh (lagi). Aku merasa kamu berubah, bahkan aku takut kamu benar-benar berubah. Ntahlah, aku tidak ingin berpikiran macam-macam tentangmu...
Kamu dan ke "cuek" anmu berusaha membuatku sesak. Membuatku terdiam menunduk di kamar mungil yang gelap ini. Ingin rasanya aku berlari menemuimu dan bertanya "kamu kenapa?'' Ah, tetapi sungguh tak mungkin itu aku lakukan. Aku tak ingin kamu seperti ini, sungguh. Kembalilah seperti kamu yang dulu. Aku merindukannya, ya aku merindukan kamu yang dulu.
Dikamar mungil ini, aku selalu merangkai bayangmu. Melihatmu dalam lamunan-lamunanku. Melihat kita tertawa lepas di teras rumahku. Sunguh, kau merindukanmu...
Aku masih merangkai bayangmu disini, di kamar mungilku sehabis aku menikmati siang di teras atas. Aku melihat kamu dalam bayangan yang aku rangkai. Tersenyum padaku, lalu tiba-tiba pergi meninggalkanku. Ahh, aku tidak ingin itu terjadi.
Telepon genggamku membuyarkan lamunanku. Langsung saja aku bergegas mengambilnya, yang aku pikirkan hanya pesan singkat darimu. Ternyata benar, syukurlah kamu tak apa-apa.
Kita hanya bisa bercumbu lewat sms-sms atau telepon-telepon kita sayang. Kita tidak seperti mereka yang bisa dengan mudahnya bertemu, bergenggaman tangan, bahkan duduk berdua. Kita berbeda. kita punya cara sendiri menghabiskan waktu tanpa bersua.
Terkadang aku iri melihat mereka bertemu, bergandeng tangan di depan mataku. Aku merindukan kamu saat melihat mereka. "aku ingin pulang". Namun, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati wajahmu disana, di pejaman mataku.
Aku mohon sayang, kita bertahan dalam keadaan ini. Jangan ada lagi ketidakpedulian, cuek atau apalah itu yang membuat kita semakin sesak melawan rindu. Aku dan kamu adalah sahabat rindu yang paling baik. Dan kita sama-sama pejuang rindu yang setia.
Sayang, biarkan aku tetap menikmati wajahmu di pejaman mataku, menikmati setiap lekuk wajah terindah yang diciptakan Tuhan untukmu.
Surabaya, 13 April 2014.
Kamis, 10 April 2014
Aku di Mata Mereka.
Hari ini aku memberanikan diri menulis untuk hal yang selama ini aku rasakan tanpa bercerita kepadamu. Kamu tidak pernah tahu tentang ini (mungkin), karena aku memang menutupnya rapat-rapat untuk diriku sendiri. Ntah, apa yang ada dan entah apa yang aku rasakan ini benar adanya atau hanya perasaan saja.
Pertama kali aku menggenggam tanganmu, menetapkan kamu sebagai pengisi hidupku. Aku saat itu sangat senang. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk melepaskanmu. Hingga sekarang. Namun, di mata mereka. Ohya, aku lupa belum memberitahumu siapa sebenarnya mereka. Mereka adalah teman-temanmu (maaf, jika aku berburuk sangka. Tapi inilah yang aku rasakan). Mereka seperti menatapku aneh. Di mata mereka, aku menemukan ketidakpantasanku untuk menggenggam tanganmu.
Ohh... ya aku tahu. Mungkin aku tertutup masa lalumu yang mereka tahu dia lebih dari segalanya untuk kamu. Aku hanya lebih tidak ada apa-apanya di banding dia.
Aku masih ingat saat aku mendapat sebuah perkataan yang menurutku itu lebih dari sangat menyakitkan. Tapi aku tak tau apa namanya, aku hanya bisa mengatakan itu lebih dari menyakitkan. Memojokkanku, seolah aku yang salah. Sialnya, perkataan itu dari salah satu mulut temanmu. Ya temanmu....
Aku juga masih ingat saat kita berada dalam satu tempat bersama teman-temanmu dan masa lalumu. Aku hanya bisa diam, menunduk. Aku ingin cepat pergi dari tempat itu. Ingin cepat menghindari tatapan yang membunuhkusaat itu. Dan itu dari teman-temanmu.
Kamu tahu, mungkin kamu baru tahu apa yang selama ini aku rasakan jika kamu membaca tulisanku. Ya, inilah aku di mata mereka (teman-temanmu). Di pandang sebelah mata dan tatapan menghujam. Maaf jika aku berburuk sangka, tapi inilah yang aku rasakan. Dan aku mohon, berhentilah menatapku seperti itu.
Tangisan semalam, 10 April 2014.
Rabu, 02 April 2014
Dia, Gadis Kecil itu...
Di cermin ini aku melihat gadis kecil yang sangat ceria. Aku menyukainya, aku menyukai kepribadiannya. Gayanya seperti tak memiliki beban apapun, dan seolah berkata "aku baik-baik saja, aku menikmati hidupku". Ntah, dia sangat mengasyikkan menurutku. Tidak tahu lagi jika menurut kalian.
Namun, siapa sangka. Gadis kecil yang sekiranya terlihat sangat menikmati hidupnya. Ternyata sebenarnya dia lebih sering menghabiskan airmatanya di kamar sempit. Curhat kepada Tuhannya tentang kehidupannya. Menangis di atas sajadah. Menengadah bersujud memohon kekuatan.
Dia gadis yang baik. Gadis yang tidak neko-neko. Dia apa adanya.
Bahkan dia terlalu apa adanya. Walaupun mungkin banyak orang yang mencibir atau mungkin memandang sebelah mata. Matanya tetap mengisyaratkan "inilah aku, inilah hidupku. Aku baik-baik saja".
Dia gadis kecil yang tidak ingin menyusahkan siapa pun. Bahkan kedua orang tuanya. Walau banyak yang bilang bahwa dia anak yang tidak mandiri, atau semacamnya. Toh mereka hanya bisa melihat dari kacamata mereka sendiri. Yang jelas dia tidak seperti itu.
Dia terlampau kuat, sangat kuat. bahkan melebihi kekuatan mereka si pencibir.
Airmatanya adalah dia, namun senyum terlebih lagi miliknya.
Aku melihatnya di balik cermin kamarku. Ya, itulah dia, gadis yang mencintai hidupnya. Gadis yang kuat menjalani setiap cobaan yang datang. karena dia yakin, Allah mencintainya.
Langganan:
Komentar (Atom)