Semua hanya sebuah angan. Disaat aku merasa sendiri seperti ini, aku selalu mengingatmu. Ternyata benar, jika aku memaksa untuk melupakanmu, aku malah merasa sebaliknya, sangat sulit melakukannya. Rasanya sesak jika harus mencintai seseorang yang tidak pernah kita temui lagi, tidak pernah tahu bagaimana kabarnya lagi, tidak pernah berkomunikasi lagi. Rasanya berat.
Akhur-akhir ini, memoriku tentang kita muncul kembali. Aku lelah mengingatnya sendiri. Setiap hari yang aku lakuakan adalah aku bertanya pada diriku sendiri "kapan aku bisa lupa tentang ini semua ?". Tapi tak ada jawaban atas apapun.
Setiap malam, hanya 2 kegiatanku untuk berbagi kenangan. Yang pertama dengan Tuhanku, aku berdoa di setelah shalatku, bercerita tentang segala kenangan ini dan mendoakanmu. Yang kedua dengan lembaran-lembaran kertas yang rencananya akan aku kembalikan padamu. Aku menuliskan kenangan-kenangan kita di lembaran-lembaran kertas, lalu akan aku kirimkan padamu jika sudah saatnya. Aku ingin mengembalikan kenangan kita semua untukmu. Agar aku tidak perlu lagi berat-berat membawa kenangan-kenangan yang membebaniku ini.
Surabaya, 26 September 2014
Ingin menghapus kenangan...
Jumat, 26 September 2014
Senin, 22 September 2014
Memori.
Masih seperti biasa, aku masih selalu sendiri setiap malam. Setelah kamu pergi, aku belajar berteman dengan sepi. Aku belajar berteman dengan kenangan. Belajar bagaimana caranya melupa agar aku tidak selalu merasakan sakit yang sedemikian rupa. Kamu tahu bagaimana aku menyembunyikan rasa sakitku setiap harinya di depan mereka ? Susah sekali rasanya, tapi aku harus melakukannya.
Ohya, bagaimana kabarmu disana, Tuan ? Sudah lama tidak mendengar kabarmu semenjak aku memutuskan untuk melupa. Semoga saja kamu selalu baik dan dalam lindungan Tuhan. Aku masih selalu mendoakanmu. Kamu tahu ? Setiap malam aku menuliskan surat-surat elektronik untukmu melalui laptop merahku, lalu aku menuliskan memori-memori kita dulu di selembar kertas dan aku masukkan kedalam kardus agar tidak hilang nantinya. Sutau saat aku akan mengirim semuanya untukmu .
Aku masih ingat saat pertama kali kita bermain bersama ke suatu mall bersama teman-teman, bahkan aku masih sangat ingat tanggal berapa dan pukul berapa saat itu. Tidak ada yang aku lupakan semua tentangmu Tuan. Aku adalah gadis pengingat segala tentangmu. Padahal seharusnya aku melupakan semuanya agar sakitku ini tidak bertambah perah. Ntahlah, semakin aku paksakan untuk melupakan malah semakin aku mengingat semua tenatngmu Tuan.
Tuan, tunggu surat-surat ini ya... Aku akan mengirimnya nanti. Dan pastikan, kamu akan membaca surat-suratku nantinya. Jangan ditertawakan, jika mau menganggap aku adalah gadis bodoh silahkan. Tapi yang jelas, aku memiliki cinta yang tulus untukmu walaupun kamu melupakanku !
Surabaya, 22 Septeber 2014
Tentang surat-surat elektronikku,
akan aku kirimkan nanti jika sudah waktunya...
Ohya, bagaimana kabarmu disana, Tuan ? Sudah lama tidak mendengar kabarmu semenjak aku memutuskan untuk melupa. Semoga saja kamu selalu baik dan dalam lindungan Tuhan. Aku masih selalu mendoakanmu. Kamu tahu ? Setiap malam aku menuliskan surat-surat elektronik untukmu melalui laptop merahku, lalu aku menuliskan memori-memori kita dulu di selembar kertas dan aku masukkan kedalam kardus agar tidak hilang nantinya. Sutau saat aku akan mengirim semuanya untukmu .
Aku masih ingat saat pertama kali kita bermain bersama ke suatu mall bersama teman-teman, bahkan aku masih sangat ingat tanggal berapa dan pukul berapa saat itu. Tidak ada yang aku lupakan semua tentangmu Tuan. Aku adalah gadis pengingat segala tentangmu. Padahal seharusnya aku melupakan semuanya agar sakitku ini tidak bertambah perah. Ntahlah, semakin aku paksakan untuk melupakan malah semakin aku mengingat semua tenatngmu Tuan.
Tuan, tunggu surat-surat ini ya... Aku akan mengirimnya nanti. Dan pastikan, kamu akan membaca surat-suratku nantinya. Jangan ditertawakan, jika mau menganggap aku adalah gadis bodoh silahkan. Tapi yang jelas, aku memiliki cinta yang tulus untukmu walaupun kamu melupakanku !
Surabaya, 22 Septeber 2014
Tentang surat-surat elektronikku,
akan aku kirimkan nanti jika sudah waktunya...
Jumat, 19 September 2014
Bu, Lelah...
Hari ini, aku tidak seperti biasanya. Aku tidak seceria biasanya. Yang aku lakukan hanya diam, bahkan saat teman-temanku mengajakku bercanda aku hanya tertawa seperlunya saja. Aku pun pulang dari kampus lebih awal dari biasanya, padahal masih ada yang harus aku kerjakan bersama teman-temanku di kampus, tapi yang aku rasakan aku hanya ingin pulang dan berbaring di kamar kecilku. Ntah kenapa, hari ini aku sangat lelah. Aku tidak bersemangat. Bahkan saat aku mengendarai motorku, aku dalam keadaan tidak baik-baik saja. Aku ingin menangis memeluk ibukku, itu yang aku inginkan.
Aku tidak ingin bercerita kepada ibuk jika aku lelah seperti ini. Aku hanya takut ibuk terlalu berpikir tentang aku yang jauh ini lalu sakit. Jika aku merasakan seperti ini, aku hanya mampu menangis di sudut kamarku sendirian. Dan itru cukup sedikit melegakan aku, walaupun tidak sepenuhnya.
Rasanya, tidak ada yang bisa mengerti lelahku ini. Tidak seperti dulu. Tidak seperti saat kamu masih menjadi milikku. Dulu jika aku lelah, aku selalu berkeluh kesah tentang kepenatanku disini ke kamu. Aku menghabiskan berpuluh-puluh pulsaku hanya untuk menelponmu dan mencari ketenangan lewat suaramu. Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya. Yang bisa aku lakukan hanya melihat fotomu di ponselku dan mencari ketenangan lewat senyummu disana.
Buk, anakmu sedang lelah disini. Anakmu sedang tidak baik-baik saja disini. Aku ingin pulang buk. Aku ingin mencari ketenangan dengan cara seperti dulu, bergelayut dalam lenganmu dan tenggelam dalam peluk ibuk dan bapak. Aku merindukan kalian. Aku lelah membawa hati dan pukiran yang tak kunjung hilang dan lupa tentang masa laluku buk, pak...
Surabaya, 19 September 2014
Buk, Pak, anakmu lelah...
Aku tidak ingin bercerita kepada ibuk jika aku lelah seperti ini. Aku hanya takut ibuk terlalu berpikir tentang aku yang jauh ini lalu sakit. Jika aku merasakan seperti ini, aku hanya mampu menangis di sudut kamarku sendirian. Dan itru cukup sedikit melegakan aku, walaupun tidak sepenuhnya.
Rasanya, tidak ada yang bisa mengerti lelahku ini. Tidak seperti dulu. Tidak seperti saat kamu masih menjadi milikku. Dulu jika aku lelah, aku selalu berkeluh kesah tentang kepenatanku disini ke kamu. Aku menghabiskan berpuluh-puluh pulsaku hanya untuk menelponmu dan mencari ketenangan lewat suaramu. Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya. Yang bisa aku lakukan hanya melihat fotomu di ponselku dan mencari ketenangan lewat senyummu disana.
Buk, anakmu sedang lelah disini. Anakmu sedang tidak baik-baik saja disini. Aku ingin pulang buk. Aku ingin mencari ketenangan dengan cara seperti dulu, bergelayut dalam lenganmu dan tenggelam dalam peluk ibuk dan bapak. Aku merindukan kalian. Aku lelah membawa hati dan pukiran yang tak kunjung hilang dan lupa tentang masa laluku buk, pak...
Surabaya, 19 September 2014
Buk, Pak, anakmu lelah...
Senin, 15 September 2014
Aku, Kamu dan Kopi Hitam...
Sejak itu...
Sejak kamu pergi, aku mulai suka dengan warna hitam pekatnya kopi. Aku mulai mencintai pahitnya kopi yang selalu aku nikmati malam hari. Ya, sejak itu aku lebih memilih berdua dengan kopi hitam di malam hari menemani sepi.
Kamu dan kopi sama, hitam dan pahit. Ntah bagaimana aku bisa mengatakan ini, yang jelas aku merasakan ini. Hitam, sejatinya kamu adalah orang yang pernah memberi putih pada kisahku, tapi pada akhirnya kamu pergi meninggalkan hitam diputihku. Pahit, manis yang kamu torehkan dulu ternyata berubah seperti ini. Seperti keadaan yang membuatku seakan terhimpit masa lalu, pahit rasanya. Ya itulah kamu dan kopi.
Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang menjadi satu di hidupku. Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang membuatku kecanduan. Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang melengkapi malamku walau aku dan kamu hanya kenangan...
Menganti, 15 September 2014
Aku, Kamu, dan Kopi Hitam.
Sabtu, 13 September 2014
Maaf Aku Meninggalkanmu...
Untuk kali ini, aku memutuskan untuk benar-benar pergi dari hidupmu. Aku benar-benar menutup akses darimu agar aku bisa melupa. Maaf untuk kali ini aku melakukannya, aku hanya ingin melupa dan pergi dari bayang-bayang masa laluku denganmu. Lalu apakah aku bisa melakukannya ?? Ntahlah, yang jelas aku masih berusaha melakukannya. Namun aku tidak munafik jika aku masih saja ingin tahu kabarmu.
Hari ini, tepat sembilan minggu kamu pergi meninggalkan aku sendiri. Apa kamu sudah puas dan bahagia dengan kehidupanmu sekarang ?? Jika sudah, bersyukurlah...
Aku, masih saja berani menyelipkan namamu dalam doaku. Bahkan aku masih sangat berani dan dengan lancang mencintaimu. Ahh, aku adalah gadis bodoh yang tidak bisa menghilangkan perasaan yang seharusnya hilang. Gadis bodoh yang masih mau-maunya mencintai seorang laki-laki yang tidak pernah peduli bahkan yang telah meninggalkanku.
Inilah akhir dari semuanya sayang. Aku tidak ingin lagi melihat kamu di akun facebook, BBM, dan di akun manapun itu. Inilah caraku agar melupa. Aku harap kamu mengerti. Aku masih mencintaimu...
Magetan, 13 September 2014
Dari gadis yang telah kau tinggalkan,
Semoga kamu bahagia....
Langganan:
Komentar (Atom)