Aku tidak habis pikir dengan bagaimana seorang lelaki menikmati seputung rokoknya disaat dia merasa banyak beban yang ada dipikirannya.
Tadi, aku bersama teman dan kekasihku berjalan menyusuri sebuah Mall. Kita sepakat untuk duduk dan mengobrol di sebuah foodcourt Mall tersebut. Temanku menyulut sebatang rokoknya, aku mengernyit. Karena aku adalah tipe seorang gadis yang sangat tidak menyukai asap rokok atau lelaki yang bangga dengan putung-putung rokoknya. Aku biarkan saja waktu itu. satu batang, oke masih wajar. Dua batang... Tiga batang... dalam satu jam dia bisa menghabiskan tiga batang putung rokok. Aku menyorotkan mataku yang mengisyaratkan bagaimana dia bisa mencumbui rokoknya dalam satu jam. Aku benci melihatnya. Kata dia " aku lagi galau ". Lalu kenapa harus dengan cara itu dia mengusir galaunya ? Apa tidak ada cara lain pikirku.
Terkadang, aku tidak habis pikir dengan mereka yang senang sekali mencumbui putung-putung rokoknya. Apa mereka tidak pernah menyadari begitu mereka menyiksa diri mereka perlahan-lahan. Aku pun juga tidak habis pikir dengan kekasihku sendiri, dia yang seharusnya menjaga badannya, menjauhkan diri dari putung-putung rokok tetapi dia juga masih saja menyentuh dan menikmatinya. Aku benci jika sudah seperti itu. Bisa jadi aku marah besar. Dan berbicara "Jika kamu lebih memilih seputung rokokmu daripada aku, tinggalkan aku !" Mungkin aku terlalu mengekangnya. Tapi... hanya saja aku ingin dia mengerti betapa tersiksanya dia esok jika menikmatinya sekarang. Tapi dia masih saja mengulanginya. Ntahlah, yang jelas aku membencinya jika dia melakukan hal semacam ini.
Lelaki dan seputung rokoknya memang sudah tidak bisa terpisahkan. Ntah hanya hobi, makanan sehari-hari atau penghalau kegalauan. ntahlah... aku benar-benar tidak mengerti.