Sabtu, 29 Maret 2014

Lelaki dan Putung Rokoknya.

Aku tidak habis pikir dengan bagaimana seorang lelaki menikmati seputung rokoknya disaat dia merasa banyak beban yang ada dipikirannya.
Tadi, aku bersama teman dan kekasihku berjalan menyusuri sebuah Mall. Kita sepakat untuk duduk dan mengobrol di sebuah foodcourt Mall tersebut. Temanku menyulut sebatang rokoknya, aku mengernyit. Karena aku adalah tipe seorang gadis yang sangat tidak menyukai asap rokok atau lelaki yang bangga dengan putung-putung rokoknya. Aku biarkan saja waktu itu. satu batang, oke masih wajar. Dua batang... Tiga batang... dalam satu jam dia bisa menghabiskan tiga batang putung rokok. Aku menyorotkan mataku yang mengisyaratkan bagaimana dia bisa mencumbui rokoknya dalam satu jam. Aku benci melihatnya. Kata dia " aku lagi galau ". Lalu kenapa harus dengan cara itu dia mengusir galaunya ? Apa tidak ada cara lain pikirku.
Terkadang, aku tidak habis pikir dengan mereka yang senang sekali mencumbui putung-putung rokoknya. Apa mereka tidak pernah menyadari begitu mereka menyiksa diri mereka perlahan-lahan. Aku pun juga tidak habis pikir dengan kekasihku sendiri, dia yang seharusnya menjaga badannya, menjauhkan diri dari putung-putung rokok tetapi dia juga masih saja menyentuh dan menikmatinya. Aku benci jika sudah seperti itu. Bisa jadi aku marah besar. Dan berbicara "Jika kamu lebih memilih seputung rokokmu daripada aku, tinggalkan aku !" Mungkin aku terlalu mengekangnya. Tapi... hanya saja aku ingin dia mengerti betapa tersiksanya dia esok jika menikmatinya sekarang. Tapi dia masih saja mengulanginya. Ntahlah, yang jelas aku membencinya jika dia melakukan hal semacam ini.
Lelaki dan seputung rokoknya memang sudah tidak bisa terpisahkan. Ntah hanya hobi, makanan sehari-hari atau penghalau kegalauan. ntahlah... aku benar-benar tidak mengerti.

Jumat, 28 Maret 2014

Aku mencintai hujan, terlampau mencintai...

Kali ini aku menikmati hujan sore hari disini, di teras rumahku. Aku menikmati setiap tetes hujan yang berjatuhan ditanah. Aku mencintai hujan, terlalu mencintai hujan.
Pikiranku terhepas ke masa lalu, dimana aku masih sering menikmati hujan bahkan mencumbuinya. Saat itu aku berumur kurang lebih 7 tahun. Hujan terlampau deras saat itu. Aku tidak bisa menahan keinginanku untuk menikmatinya. Aku berlari menemui ibu dan berkata dengan lagak manis seorang anak kecil "ibuk, apa aku boleh ujan-hujan sore ini ?". Ibu tidak mengijinkan, namun bapak memperbolehkan. aku berlari gembira layaknya anak kecil yang mendapat sesuatu yang dia inginkan. Aku membelah hujan, aku menikmati setiap tetes yang jatuh ditubuhku. Aku senang kala itu.
Aku mencintai hujan semenjak aku kecil. Aku lebih mencintai hujan semenjak ada dia (masa laluku), dia dan aku sama. Kita mencintai hujan, terlalu mungkin. Tapi, dia tidak mencintai aku. Sangat tidak mencintai aku setelah kejadian malam itu. Sudahlah, lupakan tentangnya. Kita sedang membahas hujan yang indah sekarang ini... Dan sekarang, aku masih mencintai hujan, bahkan sangat mencintai hujan daripada dulu. Bukan karena dia lagi, tetapi karena KAMU... ya kamu...
hujan di sore ini, terlampau indah dengan tetesan lembutnya, bau-bau tanah yang khas jika terbasahi hujan dan suara rintik-rintik yang menenangkan. oke... sekarang saatnya aku membelah hujan lagi, sebagai usia dewasaku bukan sebagai usia anak-anakku.
Magetan, 28 Maret 2014.
Hujan Sore Hari.

Kamis, 27 Maret 2014

Kali ini aku memenuhi janjiku...

Kali ini aku memenuhi janjiku. Aku pulang, ya aku pulang. Aku pulang menemuimu.
Disaat bis menurunkan aku ditempat yang semestinya, kamu datang dengan sepeda motormu untuk menjemputku. Senyuman manis itu, masih saja sama. Tidak berubah sama sekali. Aku merindukan senyuman itu. Dan disaat aku duduk diboncengan motormu, kamu juga masih menyetir dengan gaya yang sama. Selalu melihat kebelakang, melihatku dan mengajakku bercanda. Ntahlah, rasanya sangat senang.
Aku sudah membayangkan besok kita akan menghitung bintang bersama lagi. Ataupun menikmati beberapa ratus atau beberapa ratus ribu rintik hujan bersama. Aku ingin melewati semuanya bersama kamu. BERDUA...
Sayang, kali ini aku memenuhi janjiku. Untuk beberapa hari aku dirumah. Kali ini kita akan tertawa lepas dengan menikmati hujan atau menghitung bintang bahkan makan es krim bersama lagi. Disini, di teras rumahku atau diteras rumahmu.

Rabu, 26 Maret 2014

Jauh.... (tapi aku tak meninggalkanmu)

 Masih aku ingat pertama kali aku meninggalkan desa itu, mengangkat tas dan barang bawaanku. Masih aku ingat saat aku menunggu kamu menjemputku untuk mengantarkanku pada bis yang akan membawaku pergi. Dan masih sangat aku ingat saat kamu tersenyum manis, dan seolah matamu berkata "sudah pergilah, kita akan baik-baik saja" semua membuat aku berat untuk melangkahkan kaki masuk pada bis yang telah menungguku.
saat aku sudah duduk manis dalam bis, aku masih ingat pesan yang kamu berikan lewat telepon genggammu. Kamu meminta aku untuk menjaga diri baik-baik dan jangan nakal disini. Aku tersenyum. Bukan...Bukan..., aku tidak tersenyum kala itu. Aku menangis. Ah ntahlah, aku tidak bisa mendeskripsikan aku sendiri pada waktu itu. Yang jelas aku sangat ingin kamu ikut menemani aku d kota ini.
Sekarang, kita berada dalam daerah yang berbeda. Kamu dan aku tidak lagi menghitung bintang di teras rumahku bersama. Sekarang, kita tidak lagi makan es krim bersama. Aku merindukan semua itu (sungguh). Apa kamu juga merindukannya ?
Sayang, mengertilah... aku jauh darimu bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku masih ingat ketika airmataku jatuh, saat itu kamu bertanya "kapan kamu pulang?" dan aku menjawab "sabar, aku juga tidak tahu". Tenanglah sayang, aku pasti akan pulang, batinku.
Sayang, percayalah... kita akan baik-baik saja. Seperti pesan dari matamu yang pertama kali kamu sorotkan ke mataku waktu aku harus meninggalkan desa kita. Bertahanlah demi apapun, demi cinta yang telah kita jalin selama ini. aku tahu, kita kuat.
Sayang, aku merindukanmu...
Aku akan pulang...

Surabaya, 26 Maret 2014