Malam minggu tadi, aku sendiri seperti hari-hari biasanya. Semenjak kamu tinggalkan, aku menjadi lebih sering melamun dan berdiam. Menata rindu yang terus menerus bertambah. Ah, lupakan tentang diam dan lamunanku, dan sekarang kembali pada topik utama. Seperti biasanya, aku berada di kamar mungilku untuk sekadar menonton film di layar laptop merahku. Dan semenjak tidak ada kamu, malam mingguku pun hanya di habiskan dengan kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja.
Aku tidak sadar bahwa tadi malam ternyata hujan turun dengan gemericik airnya yang aku tunggu-tunggu. Aku baru tersadar saat aku keluar kamar untuk mengambil makan. Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi itu, aku bergegas membuka pintu gerbang sebelah kamarku dan berlari melihat apakah benar itu hujan yang selalu aku nantikan. Senyumku mengembang, bahkan terlalu lebar setelah pertanyaanku terjawab dengan puas. Aku melupakan laparku. Aku duduk dengan manis, menikmati hujan pertama di daerah rantauanku malam itu.
Hanya satu yang terbesit kala itu, ini hujan pertamaku tanpamu. Tidak seperti 30 bulan yang lalu. Saat kamu datang memintaku menjadi bagian dari hidupmu. Kamu ingat bukan, saat itu hujan mengiringi setiap perkataanmu, membuat suasana seolah seperti di film-film romantis. Hahaha, mungkin aku terlalu berlebihan menulis ini.
Dan mulai kali ini, aku tidak akan lagi menikmati hujan bersamamu. Kita tidak akan lagi menembus jalanan saat hujan datang, kita tidak akan lagi menghitung hujan di teras depan rumahku, dan kita tidak akan lagi makan es krim bersama saat hujan seperti waktu itu...
Menganti, 9 Nopember 2014
Hujan pertama tanpamu,
aku merindukamu...
