Sabtu, 08 November 2014

Ini Hujan Pertama (Tanpamu)

Malam minggu tadi, aku sendiri seperti hari-hari biasanya. Semenjak kamu tinggalkan, aku menjadi lebih sering melamun dan berdiam. Menata rindu yang terus menerus bertambah. Ah, lupakan tentang diam dan lamunanku, dan sekarang kembali pada topik utama. Seperti biasanya, aku berada di kamar mungilku untuk sekadar menonton film di layar laptop merahku. Dan semenjak tidak ada kamu, malam mingguku pun hanya di habiskan dengan kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja.

Aku tidak sadar bahwa tadi malam ternyata hujan turun dengan gemericik airnya yang aku tunggu-tunggu. Aku baru tersadar saat aku keluar kamar untuk mengambil makan. Mendengar suara yang sudah tidak asing lagi itu, aku bergegas membuka pintu gerbang sebelah kamarku dan berlari melihat apakah benar itu hujan yang selalu aku nantikan. Senyumku mengembang, bahkan terlalu lebar setelah pertanyaanku terjawab dengan puas. Aku melupakan laparku. Aku duduk dengan manis, menikmati hujan pertama di daerah rantauanku malam itu.

Hanya satu yang terbesit kala itu, ini hujan pertamaku tanpamu. Tidak seperti 30 bulan yang lalu. Saat kamu datang memintaku menjadi bagian dari hidupmu. Kamu ingat bukan, saat itu hujan mengiringi setiap perkataanmu, membuat suasana seolah seperti di film-film romantis. Hahaha, mungkin aku terlalu berlebihan menulis ini.

Dan mulai kali ini, aku tidak akan lagi menikmati hujan bersamamu. Kita tidak akan lagi menembus jalanan saat hujan datang, kita tidak akan lagi menghitung hujan di teras depan rumahku, dan kita tidak akan lagi makan es krim bersama saat hujan seperti waktu itu...

Menganti, 9 Nopember 2014
Hujan pertama tanpamu,
aku merindukamu...

Rabu, 15 Oktober 2014

Tanya ?

Surabaya, akhir-akhir ini berhawa panas sekali. Bahkan kipas angin yang aku nyalakan tepat di depan wajahku ini rasanya tidak bisa menghilangkan hawa panas di kota rantauanku ini. Tapi, setidaknya membantu mendinginkan hawa yang ada di kamar mungilku ini. Kali ini, aku terduduk memandangi lantai kamarku sendirian. Memandangi telepon genggam yang sedari tadi tidak memunculkan suara. Ntah aku sedang menunggu atau apa, yang jelas aku tidak melepas pandanganku dari telepon genggam yang aku letakkan disampingku ini.

Setiap malam, setidaknya ada satu laki-laki yang mengirim pesan padaku dan memanggilku dengan sebutan "Sayang". Mengirimkan perhatian-perhatian kecil yang membuatku terkadang merasa sangat dicintai dan di perhatikan. Mengirimkan kata-kata "aku sayang kamu" yang membuat aku merasa sangat disayangi. Tapi, nyatakah semua ini ? Bahkan aku dan dia bukan sepasang kekasih. Kita sama-sama ingin sendiri.

Kita sama-sama tahu bahwa kita tidak akan bisa bersatu walau kita memiliki perasaan yang sama, perasaan yang entah disebut apa ini. Kita lebih memilih keadaan seperti ini. Kita yang memilih berada dalam zona nyaman tanpa harus memiliki komitmen dan tanpa harus memiliki status. Kita bukan sepasang kekasih, namun jika dibilang teman pun juga bisa diartikan lebih.

Untuk laki-laki pengundang tawaku, bolehkah aku bertanya padamu ? Siapa kita ?

Jumat, 10 Oktober 2014

Untuk kali ini, SUDAH CUKUP !

Bertemu lagi dengan sepi, selalu saja begitu. Aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini. Semenjak hari itu, saat aku berusaha menghubungimu lagi hanya untuk mengetahui bagaimana kabarmu. Aku mendadak diam, dan menjadi sangat dia akhir-akhir ini. Kamu berubah, hanya itu yang aku tangkap dari percakapan kita melalui salah satu akun sosial mediaku. Aku sangat tahu kamu, tapi sekarang berbeda, aku bahkan tak mengenal sosokmu. Canggung, dingin yang aku rasakan. Segampang inikah kamu menghilangkan aku dari pikiranmu ? Kenapa aku tidak bisa dengan mudahnya menghilangkan kamu dari pikiranku sepertimu ?

Untuk kali ini, SUDAH CUKUP ! Sudah cukup segala kepedulian yang mengalir ini, aku lelah !

Minggu, 05 Oktober 2014

Selamat Berjuang Tuan.

Hei Tuan,

Kamu masih mengingatku ? Aku adalah gadis yang kamu tinggalkan dengan alasanmu yang ingin fokus dengan karirmu menjadi abdi negara. Aku adalah gadis yang dulu dengan setia selalu memberimu semangat untuk mencapai cita-citamu yang tidak mudah itu. Aku adalah gadis yang dengan setianya berada di belakangmu, berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Aku adalah gadis yang ingin mencapai kesuksesan bersama denganmu, saling menyemangati dan mendukung. Tapi kamu pergi dengan pilihanmu sendiri, meninggalkan aku dan mimpi kita. Memilih menemukan gadis lain yang hanya akan datang saat kamu sudah berpangkat. Dan memilih meninggalkan aku, gadis biasa yang selalu setia menemanimu dari titik nol menuju 
titik berhasilmu. Aku yang setia menemanimu berjuang, tapi kau tinggalkan.

Hei Tuan,

Kamu tahu apa yang aku lakukan semenjak kepergianmu ? Aku tidak pernah henti-hentinya menyemangatimu, mendukungmu, memberimu senyuman, menemanimu saat kamu lelah, memelukmu saat kamu merasa ingin berputus asa. Namun maaf Tuan, semua itu hanya bisa aku lakukan lewat doa disetiap aku mengingatmu. Aku masih setia dengan itu walaupun aku tahu aku sudah tidak diinginkan lagi. Karena aku tahu, kamu membutuhkan semangat yang lebih untuk mencapai cita-citamu walaupun yang kamu inginkan bukan dari aku.

Hei Tuan,

Aku adalah gadis yang tidak pernah hentinya menanyakan kabarmu kepada siapapun. Aku adalah gadis yang dengan beribu cara "kepo" tentang dirimu. Walaupun kamu tahu, aku sudah memilih untuk menghilang darimu. Tapi, aku tidak semudah itu melakukannya. Aku masih ingin memberimu semangat yang tidak pernah aku rubah dari pertama kita menjalin hubungan walaupun dengan cara yang berbeda sekarang.

Hei Tuan,

Aku adalah gadis biasa yang tidak ingin mengambil kesempatan disaat karirmu menanjak nantinya. Kamu tahu Tuan ? Aku tidak tergiur oleh pangkatmu. Aku gadis biasa yang hanya ingin menemani dan ditemani olehmu. Aku adalah gadis biasa yang ingin berjuang bersamamu, menggapai cita-cita bersama.

Hei Tuan,

Maaf sekali lagi aku akan menjelaskan, aku adalah gadis biasa yang setia menemanimu dari titik nol menuju titik berhasilmu. Aku yang setia menemanimu berjuang, tapi kau tinggalkan...

Magetan, 6 Oktober 2014
Selamat berjuang Tuan,
Jadilah abdi negara yang baik...

Rabu, 01 Oktober 2014

Untuk Malam Ini.

Untuk malam ini, aku akan berbicara tentang rindu. Ntah rindu yang bagaimana, yang jelas rindu ini aku tujukan padamu. Selama 11 minggu ini aku masih saja setia dengan doa-doaku. Aku juga masih saja setia dengan kenangan-kenangan ini. Ohiya, kamu tahu ? Ternyata kenangan kita sungguh manis. Tapi sayang sudah berakhir.

Untuk malam ini, aku akan berbicara tentang rasa. Ntah rasa yang bagaimana, yang jelas rasa ini aku tujukan padamu. Selama 11 minggu, aku masih saja setia dengan rasa ini. Rasa yang amat sangat mendalam. Yang membuatku tidak ingin sekalipun mmbuangnya hingga waktunya telah habis. Tapi sayang, mungkin rasamu telah hilang.

Untuk malam ini, aku akan berbicara tentang sepi. Ntah sepi yang bagaimana, yang jelas sepi ini selalu menemaniku. Selama 11 minggu ini, aku masih saja setia dengan sepi. Sepi yang membuatku ingin sekali berteriak dan memanggil namamu. Yang membuatku mengingat segalanya tentangmu. Tapi sayang, mungkin sepimu sekarang telah hilang, tidak lagi sama dengan sepiku.

Untuk malam ini, aku ingin sekali berbicara denganmu. Mengenai banyak hal yang telah terlewati. Untuk sekedar berkata : "aku masih sayang kamu" misalnya...

Surabaya, 1 Oktober 2014
Untuk malam ini...

Jumat, 26 September 2014

Memori 2...

Semua hanya sebuah angan. Disaat aku merasa sendiri seperti ini, aku selalu mengingatmu. Ternyata benar, jika aku memaksa untuk melupakanmu, aku malah merasa sebaliknya, sangat sulit melakukannya. Rasanya sesak jika harus mencintai seseorang yang tidak pernah kita temui lagi, tidak pernah tahu bagaimana kabarnya lagi, tidak pernah berkomunikasi lagi. Rasanya berat.

Akhur-akhir ini, memoriku tentang kita muncul kembali. Aku lelah mengingatnya sendiri. Setiap hari yang aku lakuakan adalah aku bertanya pada diriku sendiri "kapan aku bisa lupa tentang ini semua ?". Tapi tak ada jawaban atas apapun.

Setiap malam, hanya 2 kegiatanku untuk berbagi kenangan. Yang pertama dengan Tuhanku, aku berdoa di setelah shalatku, bercerita tentang segala kenangan ini dan mendoakanmu. Yang kedua dengan lembaran-lembaran kertas yang rencananya akan aku kembalikan padamu. Aku menuliskan kenangan-kenangan kita di lembaran-lembaran kertas, lalu akan aku kirimkan padamu jika sudah saatnya. Aku ingin mengembalikan kenangan kita semua untukmu. Agar aku tidak perlu lagi berat-berat membawa kenangan-kenangan yang membebaniku ini.

Surabaya, 26 September 2014
Ingin menghapus kenangan...

Senin, 22 September 2014

Memori.

Masih seperti biasa, aku masih selalu sendiri setiap malam. Setelah kamu pergi, aku belajar berteman dengan sepi. Aku belajar berteman dengan kenangan. Belajar bagaimana caranya melupa agar aku tidak selalu merasakan sakit yang sedemikian rupa. Kamu tahu bagaimana aku menyembunyikan rasa sakitku setiap harinya di depan mereka ? Susah sekali rasanya, tapi aku harus melakukannya.

Ohya, bagaimana kabarmu disana, Tuan ? Sudah lama tidak mendengar kabarmu semenjak aku memutuskan untuk melupa. Semoga saja kamu selalu baik dan dalam lindungan Tuhan. Aku masih selalu mendoakanmu. Kamu tahu ? Setiap malam aku menuliskan surat-surat elektronik untukmu melalui laptop merahku, lalu aku menuliskan memori-memori kita dulu di selembar kertas dan aku masukkan kedalam kardus agar tidak hilang nantinya. Sutau saat aku akan mengirim semuanya untukmu .

Aku masih ingat saat pertama kali kita bermain bersama ke suatu mall bersama teman-teman, bahkan aku masih sangat ingat tanggal berapa dan pukul berapa saat itu. Tidak ada yang aku lupakan semua tentangmu Tuan. Aku adalah gadis pengingat segala tentangmu. Padahal seharusnya aku melupakan semuanya agar sakitku ini tidak bertambah perah. Ntahlah, semakin aku paksakan untuk melupakan malah semakin aku mengingat semua tenatngmu Tuan.

Tuan, tunggu surat-surat ini ya... Aku akan mengirimnya nanti. Dan pastikan, kamu akan membaca surat-suratku nantinya. Jangan ditertawakan, jika mau menganggap aku adalah gadis bodoh silahkan. Tapi yang jelas, aku memiliki cinta yang tulus untukmu walaupun kamu melupakanku !

Surabaya, 22 Septeber 2014
Tentang surat-surat elektronikku,
akan aku kirimkan nanti jika sudah waktunya...

Jumat, 19 September 2014

Bu, Lelah...

Hari ini, aku tidak seperti biasanya. Aku tidak seceria biasanya. Yang aku lakukan hanya diam, bahkan saat teman-temanku mengajakku bercanda aku hanya tertawa seperlunya saja. Aku pun pulang dari kampus lebih awal dari biasanya, padahal masih ada yang harus aku kerjakan bersama teman-temanku di kampus, tapi yang aku rasakan aku hanya ingin pulang dan berbaring di kamar kecilku. Ntah kenapa, hari ini aku sangat lelah. Aku tidak bersemangat. Bahkan saat aku mengendarai motorku, aku dalam keadaan tidak baik-baik saja. Aku ingin menangis memeluk ibukku, itu yang aku inginkan.

Aku tidak ingin bercerita kepada ibuk jika aku lelah seperti ini. Aku hanya takut ibuk terlalu berpikir tentang aku yang jauh ini lalu sakit. Jika aku merasakan seperti ini, aku hanya mampu menangis di sudut kamarku sendirian. Dan itru cukup sedikit melegakan aku, walaupun tidak sepenuhnya.

Rasanya, tidak ada yang bisa mengerti lelahku ini. Tidak seperti dulu. Tidak seperti saat kamu masih menjadi milikku. Dulu jika aku lelah, aku selalu berkeluh kesah tentang kepenatanku disini ke kamu. Aku menghabiskan berpuluh-puluh pulsaku hanya untuk menelponmu dan mencari ketenangan lewat suaramu. Tapi sekarang, aku tidak bisa melakukannya. Yang bisa aku lakukan hanya melihat fotomu di ponselku dan mencari ketenangan lewat senyummu disana.

Buk, anakmu sedang lelah disini. Anakmu sedang tidak baik-baik saja disini. Aku ingin pulang buk. Aku ingin mencari ketenangan dengan cara seperti dulu, bergelayut dalam lenganmu dan tenggelam dalam peluk ibuk dan bapak. Aku merindukan kalian. Aku lelah membawa hati dan pukiran yang tak kunjung hilang dan lupa tentang masa laluku buk, pak...

Surabaya, 19 September 2014
Buk, Pak, anakmu lelah...

Senin, 15 September 2014

Aku, Kamu dan Kopi Hitam...

Sejak itu...
Sejak kamu pergi, aku mulai suka dengan warna hitam pekatnya kopi. Aku mulai mencintai pahitnya kopi yang selalu aku nikmati malam hari. Ya, sejak itu aku lebih memilih berdua dengan kopi hitam di malam hari menemani sepi.

Kamu dan kopi sama, hitam dan pahit. Ntah bagaimana aku bisa mengatakan ini, yang jelas aku merasakan ini. Hitam, sejatinya kamu adalah orang yang pernah memberi putih pada kisahku, tapi pada akhirnya kamu pergi meninggalkan hitam diputihku. Pahit, manis yang kamu torehkan dulu ternyata berubah seperti ini. Seperti keadaan yang membuatku seakan terhimpit masa lalu, pahit rasanya. Ya itulah kamu dan kopi.

Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang menjadi satu di hidupku. Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang membuatku kecanduan. Aku, kamu, dan kopi hitam sekarang melengkapi malamku walau aku dan kamu hanya kenangan...

Menganti, 15 September 2014
Aku, Kamu, dan Kopi Hitam.

Sabtu, 13 September 2014

Maaf Aku Meninggalkanmu...

Untuk kali ini, aku memutuskan untuk benar-benar pergi dari hidupmu. Aku benar-benar menutup akses darimu agar aku bisa melupa. Maaf untuk kali ini aku melakukannya, aku hanya ingin melupa dan pergi dari bayang-bayang masa laluku denganmu. Lalu apakah aku bisa melakukannya ?? Ntahlah, yang jelas aku masih berusaha melakukannya. Namun aku tidak munafik jika aku masih saja ingin tahu kabarmu.

Hari ini, tepat sembilan minggu kamu pergi meninggalkan aku sendiri. Apa kamu sudah puas dan bahagia dengan kehidupanmu sekarang ?? Jika sudah, bersyukurlah...

Aku, masih saja berani menyelipkan namamu dalam doaku. Bahkan aku masih sangat berani dan dengan lancang mencintaimu. Ahh, aku adalah gadis bodoh yang tidak bisa menghilangkan perasaan yang seharusnya hilang. Gadis bodoh yang masih mau-maunya mencintai seorang laki-laki yang tidak pernah peduli bahkan yang telah meninggalkanku.

Inilah akhir dari semuanya sayang. Aku tidak ingin lagi melihat kamu di akun facebook, BBM, dan di akun manapun itu. Inilah caraku agar melupa. Aku harap kamu mengerti. Aku masih mencintaimu...

Magetan, 13 September 2014
Dari gadis yang telah kau tinggalkan,
Semoga kamu bahagia....

Kamis, 28 Agustus 2014

Rasa yang Tiba-tiba (Untuknya)...

Ntah bagaimana caranya rasa ini muncul dengan tiba-tiba. Semenjak kita sering saling sapa lewat media sosial facebook, aku merasa ada yang aneh. Ntah perasaan apa, yang jelas aku menyukaimu. Ya segampang itu aku bisa menebak perasaanku. Setelah beberapa tahun kita tidak pernah bertemu, hingga akhirnya sekarang kita di pertemukan lewat akun media sosial ini.

Tidak banyak yang berubah semenjak pertama bertemu di TK, kamu masih seperti dulu. Hanya saja berubah menjadi laki-laki yang menurutku cukup membuat banyak wanita menyukaimu, mungkin termasuk aku. Aku hanya bisa melihatmu lewat photo profil facebookmu dan memberanikan diri menyapamu terlebih dulu lewat messenger facebok. Dan terkadang saat di tengah-tengah kita saling berkirim pesan, kamu tiba-tiba saja meninggalkan pesan yang aku kirim dan tidak membalasnya. Rasanya ada yang kurang saja.

Kamu, laki-laki pemilik alis tebal. Aku menyukai alismu, dari dulu. Dan entah kenapa, aku mulai menyukaimu hanya dengan melihat photomu di facebookku. Apa ini hanya perasaan sementara ?? Atau masih ada kelanjutannya ?? Ntahlah, yang jelas aku masih ingin sekali meneruskan saling sapa ini walaupun hanya lewat media sosial. Dan mungkin, aku berharap bisa lebih dari saling sapa lewat media sosial, seperti bertemu dan bercerita banyak hal mungkin.

Magetan, 28 Agustus 2014
Untuk laki-laki pemilik alis tebal.
Dariku ; yang menyukaimu.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Aku Yang Lebih Baik Tanpamu...

Setelah beberapa minggu aku merasa kehilangan sosokmu, sekarang aku mulai biasa saja. Aku mulai biasa dengan kesendirianku yang ternyata begitu mengasyikkan. Dan perlahan kamu tergeser dan menghilang dari pikiranku. Ntah kenapa, sekarang aku mulai leluasa menjalani hari-hariku. Tanpa adanya kamu pun ternyata bisa seindah dan setenang ini. Walau aku tidak munafik bahwa terkadang memang aku merindukan sosokmu hadir.

Mungkin, aku sudah terlalu lelah menunggumu pulang. Dan mungkin aku sudah lelah memperjuangkanmu sejauh ini tanpa adanya timbal balik darimu. Tidak usah kawatir dengan keadaanku sekarang, lihat, aku baik-baik saja dan sangat baik-baik saja tanpamu bukan ?? Aku masih bisa tertawa, bahkan sangat puas. Aku masih bisa bernafas, bahkan sangat lega. Betapa menyenangkannya menjadi aku sekarang.

Dan sekarang, aku lebih memilih untuk sendiri hingga Sang Pencipta membawaku pada hati yang tepat. Aku tidak akan mengusikmu lagi seperti keinginanmu. Aku tidak akan mengharapkanmu lagi. Dan seperti kata Bapak bahwa, aku lebih baik tidak mengharapkanmu lagi dan bisa membuka lembaran baru tanpamu.

Aku sangat berterima kasih kepadamu karena kamu telah mengajarkan sesuatu hal yang membuatku lebih baik dari biasanya. Pergilah, aku tidak ingin kamu kembali untuk kali ini. Kecuali Tuhan mempertemukan kita sebagai jodoh sebagaimana mestinya beberapa tahun lagi...

Magetan, 24 Agustus 2014
Aku yang lebih baik tanpamu...

Kamis, 21 Agustus 2014

Aku Hanya Ingin Lari...

Kali ini, aku lelah. Aku seperti ada di lorong gelap, duduk termangu menatap dinding-dinding yang catnya mulai hilang. Dan disini, yang aku tau aku hanya harus memilih lebih lama tinggal di lorong gelap ini atau berjalan perlahan menuju cahaya diseberang sana. Aku harus dengan cepat memutuskan aku harus bertindak bagaimana sekarang, karena jika tidak, aku akan terlalu lama berada dalam gelap yang sangat menyeramkan ini.

"Aku hanya ingin lari !" Teriakku untuk sekian kalinya. Namun, kakiku tidak bisa melakukannya. aku masih saja tetap diam disini, bahkan sampai aku menangis tersedu-sedu. "Aku hanya ingin lari, itu saja". Ucapku pelan di balik tangisku hingga tak terdengar. Hingga suatu ketika aku mendengar suara yang tidak asing di telingaku berbisik "Ayo lari bersamaku". Dia, mengajakku berlari setelah 2 tahun setengah aku lupakan begitu saja. Dia merangkul, menemani aku di dalam lorong dan membantuku berdiri walau aku amat sangat tertatih. "Ya, temani aku berlari". Harapku.

Terima kasih selama ini membantuku berlari walau lariku tidak sekencang biasanya. Terima kasih kamu telah menemukan aku lagi saat laki-laki itu meninggalkan aku di lorong gelap. Aku bersyukur memiliki teman sepertimu.

Magetan, 22 Agustus 2014.

Senin, 11 Agustus 2014

Aku Hanya Ingin Jatuh Cinta Lagi.

Sudah sering aku mendengar mereka berkata bahwa aku harus melupakan kisah yang baru saja berakhir sebulan yang lalu. Dan sudah sering juga aku mencoba melupakan dan memberi sugesti pada diriku sendiri bahwa aku harus melupakan, tapi ntah hati ini berkata belum saatnya untuk dilupakan. 

Sudah kurang lebih sebulan yang lalu, dia meninggalkan aku dan mimpi-mimpi kita yang dulu telah kita bicarakan. Dan sudah kurang lebih sebulan yang lalu aku memutuskan untuk mencintai dia secara diam-diam. Yaa, ini bukan kali pertama aku mencintai seseorang secara diam-diam. Dulu aku pernah mencintai seseorang secara diam-diam selama 3 tahun dan hasilnya nol. Dan jika kali ini aku harus mencintai kamu secara diam-diam dan hasilnya sama saja nol, aku tidak keberatan. Karena yang aku tahu, ini semua hanya masalah waktu saja hingga aku menemukan seseorang yang membuat aku jatuh cinta lagi. Karena pada dasarnya, cinta itu ada yang pergi dan ada yang datang, bukan ?

Sebenarnya aku ingin merasakan bagaimana jatuh cinta lagi dan seperti diselamatkan dari sakit yang luar biasa seperti kamu melakukannya dulu kepadaku, tapi sepertinya Tuhan belum mengijinkannya. Yang aku tau, aku masih dengan sangat senang menunggumu pulang ke hatiku lagi.

Kamu tau, bagaimana rasanya mencintai dalam diam seperti ini ? Haha, sakit yang paling utama. Aku sakit karena mencintai seseorang yang terlalu ambisius sepertimu. Aku sakit bila harus terus menunggumu kembali walau aku tau itu tidak akan mungkin. Tapi, ntah kenapa aku masih memilih melakukannya sekarang. Sungguh memang aku adalah gadis bodoh yang mau dengan mudahnya menyia-nyiakan cintanya untuk seseorang yang tidak pernah berniat membalas cintaku.

Untuk hati yang merelakan cintanya untuk seseorang yang tidak pernah peduli, aku berdoa semoga ada yang lebih baik dari cinta ini esok.

Magetan, 11 Agustus 2014.

Senin, 28 Juli 2014

Pertanyaan Membunuh.

Kamu tahu, aku sangat bahagia jika saudara-saudara dari bapak berkumpul ? Apa kamu tahu kalau aku sangat membanggakan kamu di depan mereka ? Sepertinya tidak. Dan sekarang, semua itu berubah menjadi ketakutan yang sangat membuat aku ingin segera lari saja dari hadapan mereka. Mereka selalu saja meluncurkan pertanyaan - pertanyaan yang menurutku bisa membunuh secara perlahan jika aku mengingat- ingat dan harus menjawab, bahkan orang tuaku pun selalu bertanya dan tidak ada habisnya bertanya. "Nduk, kamu putus ? Kenapa ? Ada apa ? Eman lho." Selalu itu -itu saja yang mereka tanyakan. Lalu aku harus menjawab bagaimana ? Apa aku harus terus menerus berbohong dihadapan mereka tentang kepergianmu ? Jika kamu tahu, bahkan sampai sekarang pun aku masih saja memperjuangkan kamu di hadapan mereka, aku masih saja memperjuangkan nama baikmu.

Mungkin ini adalah pertanyaan sepele yang bisa kamu jawab jika ada yang bertanya kepadamu. Tapi tidak dengan aku. Aku selalu tidak ingin mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang anggap saja bisa membuatku pingsan jika terus menerus di suguhkan kepadaku. Apa kamu bisa bantu aku untuk menjawab semuanya sayang ? Apa kamu bisa menatap mata mereka saat menjawabnya sayang ? Mereka pun tahu, sampai sekarang aku sedang tidak baik-baik saja semenjak kamu tinggalkan. Yang aku bisa lakukan adalah tersenyum dan berkata "kita sudah saatnya terlepas mbak / mas, Aku kurang baik untuk dia''. Hanya itu, dan munafik bukan ???

Magetan, 28 Juli 2014
Hari Raya tanpa kamu...

Sabtu, 26 Juli 2014

Saat Kepergian Tidak Bisa di Tahan Lagi.



Ku ingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu,
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku,
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya,
Dan izinkan aku memeluk dirimu sekali ini saja,
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya,
Dan biarkan rasa ini bahagia utuk sekejap saja,

Kita tidak pernah tahu bagaimana jalan kita esok hari saat kita membuka mata terbangun dari tidur. Kita tidak pernah tahu bagaimana hidup kita esok setelah melewati hari ini. Dan kita juga tidak pernah menyangka bahwa perpisahan akan terjadi tepat di saat kita saling membutuhkan. Yang bisa kita rasakan hanya hampa saat kita sama-sama harus melepas genggaman yang kita jaga selama ini.
            
Setidaknya, ada yang lebih berarti dari kesendirian yang kita tanam mulai sekarang. Kita menjadi lebih baik walau merasa sangat kehilangan. Karena pada dasarnya saat kita bersama kita juga sama-sama merasa sakit yang sungguh luar biasa. Karena semakin kita saling mencintai, semakin itu pula kita selalu saling menyakiti. Dan setidaknya juga, kita sekarang jadi tahu apa arti dari kehilangan itu sendiri. Kehilangan yang tidak pernah sebelumnya aku bayangkan.

Mungkin memang sudah jalannya kita harus berjalan sendiri-sendiri di kehidupan ini. Walau sebenarnya aku tidak menginginkan semuanya. Yang aku tahu hanya kamu lebih mencintai kesendirianmu sekarang bersama apa yang ada di sekelilingmu. Dan aku hanya bisa menatap kesendirianku sendiri dengan kehampaan.

Dan sekarang, aku mulai mengais kenangan kita dengan kesendirian. Mencoba merapikan dan menyatukan lagi melalui doa. Karena aku percaya, doa adalah kekuatan paling terhebat yang pernah ada. Dan setidaknya itu membuat aku lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
             
Terhitung mulai dari sekarang, aku hanya akan mencintaimu lewat diamku. Aku hanya akan bertemu denganmu lewat mimpiku. Aku hanya akan menyentuhmu lewat doaku. Dan aku hanya akan mengenangmu lewat pejaman mataku. Hanya itu yang bisa aku lakukan setelah kita atau lebih tepatnya kamu ingin sendiri.
            
Aku berharap, cinta dalam diam ini tidak akan menimbulkan sakit yang begitu mendalam saat aku tahu nantinya kamu bersama dengan pilihan hatimu di seberang mataku. Dan aku berharap, cinta ini menjadi kekuatan tersendiri untukku. Satu lagi, aku tidak akan membencimu, itu lebih baik bukan.

Selasa, 24 Juni 2014

Masih Saja Menunggu (Kepekaanmu)

Malam ini, aku meneteskan airmata lagi disampingmu dan itu membuatmu bingung. Bahkan aku juga bingung, kenapa kepekaanmu selalu saja tidak pernah ada untuk aku.

Hanya karena satu ucapan darimu, bagian sensitifku (baca : hati) tergores lagi. Malam ini, aku berfikir yang seharusnya tidak ingin aku pikirkan, aku memang terlalu berlebihan memperlihatkan kita ke dunia maya (menurutmu). Bahkan mungkin kamu tidak ingin aku terlihat oleh mereka. Tapi tidak munafik, aku adalah perempuan yang ingin di perlihatkan ke mereka sebagai kekasihmu, walaupun sebagian besar mereka menganggap aku tidak sesempurna dari masa lalumu secara fisik.

Ntah bagaimana aku bisa berfikir seperti ini, aku memang seorang perempuan yang sangat sensitif dan bisa berfikiran macam-macam jika sudah seperti ini. Dan yang aku fikir saat aku menangis tadi adalah  aku tahu, aku bukanlah gadis yang memiliki paras yang cantik menurut sebagian laki-laki, bahkan sebagian orang. Aku hanya gadis yang memiliki tubuh pendek, kulit tidak putih, wajah tidak cantik, dan hanya keluar rumah dengan penampilan seadanya. Dan yang pasti membuat sebagian teman-temanmu berfikir bahwa aku tidak pantas untukmu dibanding dengan masa lalumu.

Aku tidak munafik, bahwa aku sering kesal jika merasa bahwa kamu tidak pernah memperlihatkan aku kepada mereka. Aku sering kesal jika status di facebook atau di akun BBM ku yang aku buat untukmu tidak pernah mendapat respon darimu. Bahkan aku tidak pernah melihat photo di akun facebook atau di akun BBM mu dengan photo kita. Aku hanya ingin kamu memperlihatkan aku sedikit saja ke mereka sayang. Hanya itu...

 
Maaf sayang, aku cenderung diam jika seperti ini. Karena aku memang tipe gadis yang tidak bisa mengungkapkan kesedihanku secara langsung. Aku hanya bisa menuangkan di tulisan-tulisan kacauku.

Magetan, 24 Juni 2014
Malam hari yang masih saja menunggu kepekaanmu.

Rabu, 18 Juni 2014

Tentang Cemburu Yang Keliru.

Sejak tadi malam, perasaan aneh muncul. Cemburu, ya perasaan itu bernama cemburu. Ntah datang dari mana cemburuku kali ini. Yang jelas aku tidak suka kamu bersama mereka...

Cemburu, sebenarnya aku berfikir untuk apa aku harus cemburu saat kamu bersama teman-temanmu. Toh, itu hakmu untuk berkumpul bersama mereka. Hanya saja aku merasa bahwa waktumu bersama teman-temanmu lebih lama daripada waktumu bersamaku. Ahh, aku memang seperti anak kecil yang menginginkan sedikit kepekaanmu. Aku seperti seorang anak balita yang menginginkan balon saat tidak di turuti oleh ibuk bapakku.

Cemburuku pun tak bertempat. Apa aku pantas untuk cemburu kepada teman-temanmu ? Tapi, inilah yang aku rasakan. Cemburu yang tidak tahu ntah asalnya darimana. Yang jelas aku ingin menggantikan posisi teman-temanmu saat ini juga dan menghabiskan waktu bersamamu.

Cemburuku pun membuat aku sesak. Disaat aku sendirian menunggu kepekaanmu siang ini agar kamu bertanya ada apa denganku, tapi kau tak kunjung juga bertanya. Bahkan kamu tidak mempedulikanku ( baca saja "gak ngreken" diamku ). Yang aku tahu, kamu sedang asyik siang ini bersama teman-temanmu.

Tentang cemburuku yang keliru, aku meminta maaf. Tapi yang jelas aku minta umtuk sedikit saja kamu peka terhadap perasaanku, dan terhadap diamku.

Magetan, 19 Juni 2014
Tentang cemburu yang keliru.

Rabu, 28 Mei 2014

Ingatan Luka.

Tentang memori lalu, saat aku teringat apapun perkataan yang menyakitkan. membuat ulu hati nyeri bukan main. Apakah benar aku seseorang yang antagonis ? perebut ? ntahlah...

Malam ini, seharusnya aku sudah tertidur pulas, aku memang sudah berniat lebih awal merangkai mimpi malam ini. Tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku teringat perkataan yang benar-benar sangat menyakitkanku. Ah, mungkin kamu pikir aku adalah seorang perempuan yang terlalu mendramatisir semua yang ada. Tapi, inilah kenyataanya. Aku tak mendramatisir apapun karena memang aku adalah perempuan yang sangat sensitif. Aku hanya bisa diam jika bagian paling sensitifku (sebut saja : hati) tersentuh dengan luka.

Tentang luka itu, aku masih saja menyimpannya. Sebenarnya, aku ingin sekali melupakan, tapi kenyataannya yang terjadi memang aku tidak bisa melupakan. Aku hanya menyesal, kenapa aku sangat sensitif sekali dengan hal-hal yang seperti ini.

Aku masih ingat saat aku menangis di depanmu menceritakan tentang ini semuanya. Dan kamu pun mengusap airmataku sambil berkata "sudah jangan hiraukan mereka. Semua yang menjalani kita" kata-kata itu masih saja aku ingat dan masih saja menjadi peganganku disaat aku teringat segalanya. Aku hanya tidak ingin di cap sebagai perempuan yang seperti itu sayang. Hanya ituuu... Dan kamu pasti tahu.

Surabaya, 28 Mei 2014
Tentang memori lama,
kata yang membuat luka....

Sabtu, 24 Mei 2014

Ucapan Rutin Selamat Malam Minggu

"Selamat malam minggu"
Ucapan itu selalu rutin aku ucapkan lewat akun BBM ku, setiap malam minggu tiba. Ntah apa yang mendorongku mengucapkan itu, yang jelas aku merindukan malam minggu kita di tempat biasa. Dimana kita masih bisa bersua.

Malam minggu kita yang sekarang tidak sama dengan malam minggu kita yang dulu. Sekarang, hanya ada ucapan-ucapan yang ada di akun BBMku dan tanpa balasan timbal balik darimu. Aku merindukan kita duduk berdua di malam minggu seperti biasanya...

Untuk ucapan-ucapan itu, ntah sudah berapa kali aku mengucapkannya. Yang jelas setiap malam minggu aku mengucapkan "selamat malam minggu'' lewat akun BBMku tanpa bersua denganmu. dan sesungguhnya, aku ingin melihat responmu membaca personal message ku, tapi ah... pasti responmu sama saja. Tidak memberi timbal balik ucapan-ucapanku karena memang kamu adalah tipe lelaki yang tidak ingin memperlihatkan hubungan ke banyak orang. Tapi, aku tidak salah kan jika aku menginginkan kamu sedikit saja membuka tentang kita ke mereka ?

"Selamat Malam Minggu" ntahlah, sudah berapa ucapan "selamat malam minggu" lewat akun BBM ku yang aku ucapkan ke kamu tanpa bersua.

Surabaya, 24 Mei 2014
Ucapan rutinku untukmu...

Sabtu, 10 Mei 2014

Untuk Tuan yang Akan Mendaki Kesuksesan.

Hai Tuan, bagaimana dengan mimpimu di kedepannya kelak ? Apakah masih saja sama. Menjadi abdi negara yang bertanggung jawab. Tuan, aku bangga memilikimu....

Tuan, menjadi abdi negara itu berat. Tidak seperti yang orang lain pikirkan. Menjadi abdi negara itu harus memiliki tanggung jawab yang besar, yang jelas untuk negaranya sendiri. Bukan hanya membangga-banggakan pangkat yang kau peroleh saja Tuan. Yang jelas, lakukan dengan ikhlas dan tulus.

Tuan, mimpimu adalah kebanggaan bapak dan ibumu. Juga kebangganmu. Bahkan, itu menjadi kebanggaan setiap orang yang menginginkannya. Kamu harus berusaha Tuan.

Tuan, aku akan menemanimu mendaki. setidaknya hingga Tuan sampai pada akhir pendakian. Setelah itu, terserah Tuan mau dengan siapa menghabiskan kesuksesan nantinya. Karena takdir Tuhan tak selamanya sama dengan apa yang kita inginkan.

Jangan lupa Tuan, jaga juga kesehatanmu seperti kamu menjaga negeri ini. Jangan di sepelekan, karena kamu juga manusia biasa. Dan jangan lupa dengan Tuhanmu nantinya.

Percayalah, kamu bisa....

Surabaya, 10 Mei 2014.
Sedikit nasehat untukmu yang akan mendaki, menapaki kesuksesan.

Kamis, 01 Mei 2014

Kamu dan Cemburumu...

Maaf, aku membuat cemburumu membara lagi. Membuat kamu merasa harus menyudahi kisah ini. Maaf, aku membuat cemburumu merusak semua perjuangan kita. Dan maaf, karena sikapku membuat kita hampir terlepas. Tapi yang jelas, aku tidak memiliki niatan apapun seperti yang kamu pikirkan.

Malam tadi, semua begitu membuatku bungkam. Menahan semua airmata yang menyuruhku untuk segera mengeluarkannya. Kamu bersama argumen-argumenmu masih saja mengejar aku. Sedangkan aku dengan berbagai argumenku tetap saja tidak bisa mengalahkan semua argumenmu. Kamu mengatakan bahwa kamu cemburu, itulah alasanmu sehingga kamu bisa mengeluarkan kata-kata perpisahan yang sebenarnya tidak ingin aku dengar.

Tentang cemburumu... aku meminta maaf tentang sikapku yang membuatmu merasa tersakiti. Tentang cemburumu... Aku tidak memiliki niatan apapun untuk membuatmu cemburu karena membaca salah satu tulisanku di blog yang pernah aku tuliskan. Namun dengan cemburumu, aku dapat mengerti bahwa kamu benar-benar mencintaiku.

Maaf sayang, aku menyakitimu hanya karena aku dan masa laluku. Tapi mengertilah, semua tidak seperti yang kamu pikirkan.

Dan terima kasih sayang, terima kasih karena kamu masih ingin melanjutkan perjuangan kita lagi dan menarik semua kata-kata yang taidak ingin aku dengarkan. Terima kasih kamu telah menggenggam tanganku lagi dan memberi sebuah kekuatan bahwa memang kita harus berjuang melanjutkan kisah ini.

Magetan, 2 Mei 2014
Tentang cemburumu yang membuat kita hampir terlepas.

Sabtu, 26 April 2014

Tentang Sepi Malam Tadi...

Hari ini, langitku di Surabaya mendung. Tak seperti biasa, jika langit mendung aku selalu senang dan berlari ke teras belakang untuk menikmatinya sebentar. Tapi hari ini tidak, aku tidak melakukan hal yang sama dengan biasanya. Aku memilih berkutat dengan tugas-tugas kuliahku yang sedang gencar-gencarnya mengejarku untuk segera diselesaikan. Ditemani alunan musik dari telepon genggamku aku mencoba berkonsentrasi di depan laptop mungil berwarna merah dan selembar kertas polio bersama bolpoin berwarna hijau ku. Tapi ah, konsentrasiku buyar ketika aku ingat dua malam yang lalu kita bertengkar. Selalu seperti ini. Aku tidak bisa menjadi profesional saat kita sudah tidak lagi mesra seperti biasa.

Satu lagi keluhanku, tentang kesibukanmu. Ya, kesibukanmu yang membuat aku tersingkir dan terlupakan. Bahkan sms-smsmu pun jarang aku terima lagi. Aku benci menunggu, dan kamu tahu itu.

Semalam, aku menunggumu hingga larut malam bahkan hingga aku tertidur. Menunggu smsmu. Bahkan aku menunggu kamu sms meminta maaf bahwa kamu telah melupakan aku sejenak karena kesibukanmu yang super itu. Tapi nyatanya aku tak menerima sms yang aku harapkan. Aku kecewa.

Ntah apa yang ada dipikiranku malam tadi, aku merasa sangat sepi. Tanganku bergerak dengan cara tiba-tiba dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang yang terlupakan 2 tahun terakhir ini. Dan nyatanya, aku membutuhkannya saat kamu meninggalkanku seperti ini. Ya, mungkin aku berdosa. Tapi, otakku yang mengerjakan semuanya. Aku tak menghendakinya.

Aku di buat tertawa olehnya, bukan olehmu. Ah, aku takut. Aku takut kamu tergantikan. Aku takut dia mengambilnya lagi sayang. Harapanku satu-satunya, kamu yang lebih cepat mengambilku, bukan dia.

Sayang, maafkan. Aku tidak bermaksud melukai atau apapun itu. Aku masih menyimpanmu di hati yang paling dalam. Aku masih menjadikanmu penguasa yang berhak memiliki aku. Dia hanya secuil memori yang ingin aku buka saat aku merasa sepi. Dia bukan lagi hati yang aku jaga.

Sayang, mengertilah. Aku lelah menunggumu. Aku lelah menunggu kita bercanda. Berdirilah sayang, hampiri aku. Bawa aku kemana pun yang kamu suka. Dan peluk tubuhku dari belakang lagi seperti dulu. Aku menunggumu sayang. Aku mohon, mengertilah...

Rabu, 23 April 2014

Aku, Kamu, dan Bingkisan Rindu.

Tentang kata yang sulit di ungkapkan sekarang. Kata yang membuatku hanya bisa terdiam menunduk lalu memejamkan mata dan menangis. Rindu. Ya, kata itu yang membuat aku menangis tadi siang, ketika teman-temanku sedang asyik-asyiknya menyanyikan lagu-lagu yang mereka nyanyikan siang tadi. Ntah apa yang terjadi. tidak seperti biasanya rindu ini sedemikian menguasai emosiku.

Tentang kita yang selama ini jauh. Dan sekarang sangat jauh karena kesibukanmu dan kesibukanku yang akhirnya menjadikan kita seperti tidak pernah ada lagi. Yang ada hanya kamu dan kesibukanku sedangkan aku dan rutinitasku, bukan lagi KITA dan cerita kita. Aku terlalu berharap kita bisa saling bercuap-cuap lewat telepon genggam kita masing-masing. Kita saling bergurau tanpa bersua, menghabiskan ribuan pulsa hanya untuk melampiaskan rindu. Namun sekarang, ringtone hpku pun jarang berbunyi dan pulsaku pun masih saja tetap utuh. Yang ada hanya pesan singkat-pesan singkat yang sangat singkat sekali. Aku muak....

Aku adalah perindu yang baik, aku selalu membawanya, menggenggamnya kemana-mana tanpa ku lepas sedikitpun. Aku bersabar menanti waktu kepulanganku dan bertemu kamu. Tapiiiii.... Apakah aku akan bertemu kamu nantinya saat aku pulang ? Sedangkan kamu masih saja berkutat dengan kesibukanmu. Aku tak mengerti mengapa semua harus terjadi. terhimpit rindu yang mendalam dan aku tidak bisa melepaskan rindu ini kepada siapapun.

Tentang rindu yang selama ini kita agung-agungkan. Tentang rindu yang selama ini kita jaga. Tentang rindu yang selama ini kita genggam. Aku masih saja sama, menyimpannya dalam sebuah tempat yang teraman dan akan aku berikan padamu nanti saat kita bersua.

Surabaya, 23 April 2014.
Tentang rindu yang terbungkus rapi di dalam hati.
Untukmu rindu ini ku persembahkan.

Sabtu, 12 April 2014

Kita dan Rindu...

Saing ini, sepertinya langit Surabaya sedang bersahabat denganku. Langit yang sedikit mendung tanpa cahaya sang surya. Memberi kesan tenang saat aku mendongak ke atas, aku menikmati siang ini di teras atas sambil berusaha menghadirkan senyumku sebelum aku masuk lagi ke kamar mungilku dan menghabiskan airmataku untuk merangkai bayanganmu.

Sesekali aku melihat telepon genggamku, menunggu pesan singkat darimu. Tetapi sama saja, telepon genggamku tidak ada gambar pesan seperti saat ada sms masuk darimu. Kamu dimana ? aku rindu...

Aku menunggu, aku mengirim pesan singkat yang aku tujukan padamu berkali-kali. Tapi, balasan yang aku tunggu tak kunjung datang.

Sejak pertengkaran semalam, bahkan sejak pertengkaran malam-malam sebelumnya. Aku merasa kita mulai jauh (lagi). Aku merasa kamu berubah, bahkan aku takut kamu benar-benar berubah. Ntahlah, aku tidak ingin berpikiran macam-macam tentangmu...

Kamu dan ke "cuek" anmu berusaha membuatku sesak. Membuatku terdiam menunduk di kamar mungil yang gelap ini. Ingin rasanya aku berlari menemuimu dan bertanya "kamu kenapa?'' Ah, tetapi sungguh tak mungkin itu aku lakukan. Aku tak ingin kamu seperti ini, sungguh. Kembalilah seperti kamu yang dulu. Aku merindukannya, ya aku merindukan kamu yang dulu.
Dikamar mungil ini, aku selalu merangkai bayangmu. Melihatmu dalam lamunan-lamunanku. Melihat kita tertawa lepas di teras rumahku. Sunguh, kau merindukanmu...

Aku masih merangkai bayangmu disini, di kamar mungilku sehabis aku menikmati siang di teras atas. Aku melihat kamu dalam bayangan yang aku rangkai. Tersenyum padaku, lalu tiba-tiba pergi meninggalkanku. Ahh, aku tidak ingin itu terjadi.

Telepon genggamku membuyarkan lamunanku. Langsung saja aku bergegas mengambilnya, yang aku pikirkan hanya pesan singkat darimu. Ternyata benar, syukurlah kamu tak apa-apa.

Kita hanya bisa bercumbu lewat sms-sms atau telepon-telepon kita sayang. Kita tidak seperti mereka yang bisa dengan mudahnya bertemu, bergenggaman tangan, bahkan duduk berdua. Kita berbeda. kita punya cara sendiri menghabiskan waktu tanpa bersua.
Terkadang aku iri melihat mereka bertemu, bergandeng tangan di depan mataku. Aku merindukan kamu saat melihat mereka. "aku ingin pulang". Namun, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati wajahmu disana, di pejaman mataku.

Aku mohon sayang, kita bertahan dalam keadaan ini. Jangan ada lagi ketidakpedulian, cuek atau apalah itu yang membuat kita semakin sesak melawan rindu. Aku dan kamu adalah sahabat rindu yang paling baik. Dan kita sama-sama pejuang rindu yang setia.

Sayang, biarkan aku tetap menikmati wajahmu di pejaman mataku, menikmati setiap lekuk wajah terindah yang diciptakan Tuhan untukmu.

Surabaya, 13 April 2014.

Kamis, 10 April 2014

Aku di Mata Mereka.

Hari ini aku memberanikan diri menulis untuk hal yang selama ini aku rasakan tanpa bercerita kepadamu. Kamu tidak pernah tahu tentang ini (mungkin), karena aku memang menutupnya rapat-rapat untuk diriku sendiri. Ntah, apa yang ada dan entah apa yang aku rasakan ini benar adanya atau hanya perasaan saja.
Pertama kali aku menggenggam tanganmu, menetapkan kamu sebagai pengisi hidupku. Aku saat itu sangat senang. Tidak ada sedikitpun keinginan untuk melepaskanmu. Hingga sekarang. Namun, di mata mereka. Ohya, aku lupa belum memberitahumu siapa sebenarnya mereka. Mereka adalah teman-temanmu (maaf, jika aku berburuk sangka. Tapi inilah yang aku rasakan). Mereka seperti menatapku aneh. Di mata mereka, aku menemukan ketidakpantasanku untuk menggenggam tanganmu.
Ohh... ya aku tahu. Mungkin aku tertutup masa lalumu yang mereka tahu dia lebih dari segalanya untuk kamu. Aku hanya lebih tidak ada apa-apanya di banding dia.
Aku masih ingat saat aku mendapat sebuah perkataan yang menurutku itu lebih dari sangat menyakitkan. Tapi aku tak tau apa namanya, aku hanya bisa mengatakan itu lebih dari menyakitkan. Memojokkanku, seolah aku yang salah. Sialnya, perkataan itu dari salah satu mulut temanmu. Ya temanmu....
Aku juga masih ingat saat kita berada dalam satu tempat bersama teman-temanmu dan masa lalumu. Aku hanya bisa diam, menunduk. Aku ingin cepat pergi dari tempat itu. Ingin cepat menghindari tatapan yang membunuhkusaat itu. Dan itu dari teman-temanmu.
Kamu tahu, mungkin kamu baru tahu apa yang selama ini aku rasakan jika kamu membaca tulisanku. Ya, inilah aku di mata mereka (teman-temanmu). Di pandang sebelah mata dan tatapan menghujam. Maaf jika aku berburuk sangka, tapi inilah yang aku rasakan. Dan aku mohon, berhentilah menatapku seperti itu.

Tangisan semalam, 10 April 2014.

Rabu, 02 April 2014

Dia, Gadis Kecil itu...

Di cermin ini aku melihat gadis kecil yang sangat ceria. Aku menyukainya, aku menyukai kepribadiannya. Gayanya seperti tak memiliki beban apapun, dan seolah berkata "aku baik-baik saja, aku menikmati hidupku". Ntah, dia sangat mengasyikkan menurutku. Tidak tahu lagi jika menurut kalian.
Namun, siapa sangka. Gadis kecil yang sekiranya terlihat sangat menikmati hidupnya. Ternyata sebenarnya dia lebih sering menghabiskan airmatanya di kamar sempit. Curhat kepada Tuhannya tentang kehidupannya. Menangis di atas sajadah. Menengadah bersujud memohon kekuatan.
Dia gadis yang baik. Gadis yang tidak neko-neko. Dia apa adanya.
Bahkan dia terlalu apa adanya. Walaupun mungkin banyak orang yang mencibir atau mungkin memandang sebelah mata. Matanya tetap mengisyaratkan "inilah aku, inilah hidupku. Aku baik-baik saja".
Dia gadis kecil yang tidak ingin menyusahkan siapa pun. Bahkan kedua orang tuanya. Walau banyak yang bilang bahwa dia anak yang tidak mandiri, atau semacamnya. Toh mereka hanya bisa melihat dari kacamata mereka sendiri. Yang jelas dia tidak seperti itu.
Dia terlampau kuat, sangat kuat. bahkan melebihi kekuatan mereka si pencibir.
Airmatanya adalah dia, namun senyum terlebih lagi miliknya.
Aku melihatnya di balik cermin kamarku. Ya, itulah dia, gadis yang mencintai hidupnya. Gadis yang kuat menjalani setiap cobaan yang datang. karena dia yakin, Allah mencintainya.

Sabtu, 29 Maret 2014

Lelaki dan Putung Rokoknya.

Aku tidak habis pikir dengan bagaimana seorang lelaki menikmati seputung rokoknya disaat dia merasa banyak beban yang ada dipikirannya.
Tadi, aku bersama teman dan kekasihku berjalan menyusuri sebuah Mall. Kita sepakat untuk duduk dan mengobrol di sebuah foodcourt Mall tersebut. Temanku menyulut sebatang rokoknya, aku mengernyit. Karena aku adalah tipe seorang gadis yang sangat tidak menyukai asap rokok atau lelaki yang bangga dengan putung-putung rokoknya. Aku biarkan saja waktu itu. satu batang, oke masih wajar. Dua batang... Tiga batang... dalam satu jam dia bisa menghabiskan tiga batang putung rokok. Aku menyorotkan mataku yang mengisyaratkan bagaimana dia bisa mencumbui rokoknya dalam satu jam. Aku benci melihatnya. Kata dia " aku lagi galau ". Lalu kenapa harus dengan cara itu dia mengusir galaunya ? Apa tidak ada cara lain pikirku.
Terkadang, aku tidak habis pikir dengan mereka yang senang sekali mencumbui putung-putung rokoknya. Apa mereka tidak pernah menyadari begitu mereka menyiksa diri mereka perlahan-lahan. Aku pun juga tidak habis pikir dengan kekasihku sendiri, dia yang seharusnya menjaga badannya, menjauhkan diri dari putung-putung rokok tetapi dia juga masih saja menyentuh dan menikmatinya. Aku benci jika sudah seperti itu. Bisa jadi aku marah besar. Dan berbicara "Jika kamu lebih memilih seputung rokokmu daripada aku, tinggalkan aku !" Mungkin aku terlalu mengekangnya. Tapi... hanya saja aku ingin dia mengerti betapa tersiksanya dia esok jika menikmatinya sekarang. Tapi dia masih saja mengulanginya. Ntahlah, yang jelas aku membencinya jika dia melakukan hal semacam ini.
Lelaki dan seputung rokoknya memang sudah tidak bisa terpisahkan. Ntah hanya hobi, makanan sehari-hari atau penghalau kegalauan. ntahlah... aku benar-benar tidak mengerti.

Jumat, 28 Maret 2014

Aku mencintai hujan, terlampau mencintai...

Kali ini aku menikmati hujan sore hari disini, di teras rumahku. Aku menikmati setiap tetes hujan yang berjatuhan ditanah. Aku mencintai hujan, terlalu mencintai hujan.
Pikiranku terhepas ke masa lalu, dimana aku masih sering menikmati hujan bahkan mencumbuinya. Saat itu aku berumur kurang lebih 7 tahun. Hujan terlampau deras saat itu. Aku tidak bisa menahan keinginanku untuk menikmatinya. Aku berlari menemui ibu dan berkata dengan lagak manis seorang anak kecil "ibuk, apa aku boleh ujan-hujan sore ini ?". Ibu tidak mengijinkan, namun bapak memperbolehkan. aku berlari gembira layaknya anak kecil yang mendapat sesuatu yang dia inginkan. Aku membelah hujan, aku menikmati setiap tetes yang jatuh ditubuhku. Aku senang kala itu.
Aku mencintai hujan semenjak aku kecil. Aku lebih mencintai hujan semenjak ada dia (masa laluku), dia dan aku sama. Kita mencintai hujan, terlalu mungkin. Tapi, dia tidak mencintai aku. Sangat tidak mencintai aku setelah kejadian malam itu. Sudahlah, lupakan tentangnya. Kita sedang membahas hujan yang indah sekarang ini... Dan sekarang, aku masih mencintai hujan, bahkan sangat mencintai hujan daripada dulu. Bukan karena dia lagi, tetapi karena KAMU... ya kamu...
hujan di sore ini, terlampau indah dengan tetesan lembutnya, bau-bau tanah yang khas jika terbasahi hujan dan suara rintik-rintik yang menenangkan. oke... sekarang saatnya aku membelah hujan lagi, sebagai usia dewasaku bukan sebagai usia anak-anakku.
Magetan, 28 Maret 2014.
Hujan Sore Hari.

Kamis, 27 Maret 2014

Kali ini aku memenuhi janjiku...

Kali ini aku memenuhi janjiku. Aku pulang, ya aku pulang. Aku pulang menemuimu.
Disaat bis menurunkan aku ditempat yang semestinya, kamu datang dengan sepeda motormu untuk menjemputku. Senyuman manis itu, masih saja sama. Tidak berubah sama sekali. Aku merindukan senyuman itu. Dan disaat aku duduk diboncengan motormu, kamu juga masih menyetir dengan gaya yang sama. Selalu melihat kebelakang, melihatku dan mengajakku bercanda. Ntahlah, rasanya sangat senang.
Aku sudah membayangkan besok kita akan menghitung bintang bersama lagi. Ataupun menikmati beberapa ratus atau beberapa ratus ribu rintik hujan bersama. Aku ingin melewati semuanya bersama kamu. BERDUA...
Sayang, kali ini aku memenuhi janjiku. Untuk beberapa hari aku dirumah. Kali ini kita akan tertawa lepas dengan menikmati hujan atau menghitung bintang bahkan makan es krim bersama lagi. Disini, di teras rumahku atau diteras rumahmu.

Rabu, 26 Maret 2014

Jauh.... (tapi aku tak meninggalkanmu)

 Masih aku ingat pertama kali aku meninggalkan desa itu, mengangkat tas dan barang bawaanku. Masih aku ingat saat aku menunggu kamu menjemputku untuk mengantarkanku pada bis yang akan membawaku pergi. Dan masih sangat aku ingat saat kamu tersenyum manis, dan seolah matamu berkata "sudah pergilah, kita akan baik-baik saja" semua membuat aku berat untuk melangkahkan kaki masuk pada bis yang telah menungguku.
saat aku sudah duduk manis dalam bis, aku masih ingat pesan yang kamu berikan lewat telepon genggammu. Kamu meminta aku untuk menjaga diri baik-baik dan jangan nakal disini. Aku tersenyum. Bukan...Bukan..., aku tidak tersenyum kala itu. Aku menangis. Ah ntahlah, aku tidak bisa mendeskripsikan aku sendiri pada waktu itu. Yang jelas aku sangat ingin kamu ikut menemani aku d kota ini.
Sekarang, kita berada dalam daerah yang berbeda. Kamu dan aku tidak lagi menghitung bintang di teras rumahku bersama. Sekarang, kita tidak lagi makan es krim bersama. Aku merindukan semua itu (sungguh). Apa kamu juga merindukannya ?
Sayang, mengertilah... aku jauh darimu bukan berarti aku meninggalkanmu. Aku masih ingat ketika airmataku jatuh, saat itu kamu bertanya "kapan kamu pulang?" dan aku menjawab "sabar, aku juga tidak tahu". Tenanglah sayang, aku pasti akan pulang, batinku.
Sayang, percayalah... kita akan baik-baik saja. Seperti pesan dari matamu yang pertama kali kamu sorotkan ke mataku waktu aku harus meninggalkan desa kita. Bertahanlah demi apapun, demi cinta yang telah kita jalin selama ini. aku tahu, kita kuat.
Sayang, aku merindukanmu...
Aku akan pulang...

Surabaya, 26 Maret 2014