Sabtu, 12 April 2014

Kita dan Rindu...

Saing ini, sepertinya langit Surabaya sedang bersahabat denganku. Langit yang sedikit mendung tanpa cahaya sang surya. Memberi kesan tenang saat aku mendongak ke atas, aku menikmati siang ini di teras atas sambil berusaha menghadirkan senyumku sebelum aku masuk lagi ke kamar mungilku dan menghabiskan airmataku untuk merangkai bayanganmu.

Sesekali aku melihat telepon genggamku, menunggu pesan singkat darimu. Tetapi sama saja, telepon genggamku tidak ada gambar pesan seperti saat ada sms masuk darimu. Kamu dimana ? aku rindu...

Aku menunggu, aku mengirim pesan singkat yang aku tujukan padamu berkali-kali. Tapi, balasan yang aku tunggu tak kunjung datang.

Sejak pertengkaran semalam, bahkan sejak pertengkaran malam-malam sebelumnya. Aku merasa kita mulai jauh (lagi). Aku merasa kamu berubah, bahkan aku takut kamu benar-benar berubah. Ntahlah, aku tidak ingin berpikiran macam-macam tentangmu...

Kamu dan ke "cuek" anmu berusaha membuatku sesak. Membuatku terdiam menunduk di kamar mungil yang gelap ini. Ingin rasanya aku berlari menemuimu dan bertanya "kamu kenapa?'' Ah, tetapi sungguh tak mungkin itu aku lakukan. Aku tak ingin kamu seperti ini, sungguh. Kembalilah seperti kamu yang dulu. Aku merindukannya, ya aku merindukan kamu yang dulu.
Dikamar mungil ini, aku selalu merangkai bayangmu. Melihatmu dalam lamunan-lamunanku. Melihat kita tertawa lepas di teras rumahku. Sunguh, kau merindukanmu...

Aku masih merangkai bayangmu disini, di kamar mungilku sehabis aku menikmati siang di teras atas. Aku melihat kamu dalam bayangan yang aku rangkai. Tersenyum padaku, lalu tiba-tiba pergi meninggalkanku. Ahh, aku tidak ingin itu terjadi.

Telepon genggamku membuyarkan lamunanku. Langsung saja aku bergegas mengambilnya, yang aku pikirkan hanya pesan singkat darimu. Ternyata benar, syukurlah kamu tak apa-apa.

Kita hanya bisa bercumbu lewat sms-sms atau telepon-telepon kita sayang. Kita tidak seperti mereka yang bisa dengan mudahnya bertemu, bergenggaman tangan, bahkan duduk berdua. Kita berbeda. kita punya cara sendiri menghabiskan waktu tanpa bersua.
Terkadang aku iri melihat mereka bertemu, bergandeng tangan di depan mataku. Aku merindukan kamu saat melihat mereka. "aku ingin pulang". Namun, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati wajahmu disana, di pejaman mataku.

Aku mohon sayang, kita bertahan dalam keadaan ini. Jangan ada lagi ketidakpedulian, cuek atau apalah itu yang membuat kita semakin sesak melawan rindu. Aku dan kamu adalah sahabat rindu yang paling baik. Dan kita sama-sama pejuang rindu yang setia.

Sayang, biarkan aku tetap menikmati wajahmu di pejaman mataku, menikmati setiap lekuk wajah terindah yang diciptakan Tuhan untukmu.

Surabaya, 13 April 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar