Senin, 28 Juli 2014

Pertanyaan Membunuh.

Kamu tahu, aku sangat bahagia jika saudara-saudara dari bapak berkumpul ? Apa kamu tahu kalau aku sangat membanggakan kamu di depan mereka ? Sepertinya tidak. Dan sekarang, semua itu berubah menjadi ketakutan yang sangat membuat aku ingin segera lari saja dari hadapan mereka. Mereka selalu saja meluncurkan pertanyaan - pertanyaan yang menurutku bisa membunuh secara perlahan jika aku mengingat- ingat dan harus menjawab, bahkan orang tuaku pun selalu bertanya dan tidak ada habisnya bertanya. "Nduk, kamu putus ? Kenapa ? Ada apa ? Eman lho." Selalu itu -itu saja yang mereka tanyakan. Lalu aku harus menjawab bagaimana ? Apa aku harus terus menerus berbohong dihadapan mereka tentang kepergianmu ? Jika kamu tahu, bahkan sampai sekarang pun aku masih saja memperjuangkan kamu di hadapan mereka, aku masih saja memperjuangkan nama baikmu.

Mungkin ini adalah pertanyaan sepele yang bisa kamu jawab jika ada yang bertanya kepadamu. Tapi tidak dengan aku. Aku selalu tidak ingin mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang anggap saja bisa membuatku pingsan jika terus menerus di suguhkan kepadaku. Apa kamu bisa bantu aku untuk menjawab semuanya sayang ? Apa kamu bisa menatap mata mereka saat menjawabnya sayang ? Mereka pun tahu, sampai sekarang aku sedang tidak baik-baik saja semenjak kamu tinggalkan. Yang aku bisa lakukan adalah tersenyum dan berkata "kita sudah saatnya terlepas mbak / mas, Aku kurang baik untuk dia''. Hanya itu, dan munafik bukan ???

Magetan, 28 Juli 2014
Hari Raya tanpa kamu...

Sabtu, 26 Juli 2014

Saat Kepergian Tidak Bisa di Tahan Lagi.



Ku ingin kau tahu, diriku disini menanti dirimu,
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku,
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya,
Dan izinkan aku memeluk dirimu sekali ini saja,
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya,
Dan biarkan rasa ini bahagia utuk sekejap saja,

Kita tidak pernah tahu bagaimana jalan kita esok hari saat kita membuka mata terbangun dari tidur. Kita tidak pernah tahu bagaimana hidup kita esok setelah melewati hari ini. Dan kita juga tidak pernah menyangka bahwa perpisahan akan terjadi tepat di saat kita saling membutuhkan. Yang bisa kita rasakan hanya hampa saat kita sama-sama harus melepas genggaman yang kita jaga selama ini.
            
Setidaknya, ada yang lebih berarti dari kesendirian yang kita tanam mulai sekarang. Kita menjadi lebih baik walau merasa sangat kehilangan. Karena pada dasarnya saat kita bersama kita juga sama-sama merasa sakit yang sungguh luar biasa. Karena semakin kita saling mencintai, semakin itu pula kita selalu saling menyakiti. Dan setidaknya juga, kita sekarang jadi tahu apa arti dari kehilangan itu sendiri. Kehilangan yang tidak pernah sebelumnya aku bayangkan.

Mungkin memang sudah jalannya kita harus berjalan sendiri-sendiri di kehidupan ini. Walau sebenarnya aku tidak menginginkan semuanya. Yang aku tahu hanya kamu lebih mencintai kesendirianmu sekarang bersama apa yang ada di sekelilingmu. Dan aku hanya bisa menatap kesendirianku sendiri dengan kehampaan.

Dan sekarang, aku mulai mengais kenangan kita dengan kesendirian. Mencoba merapikan dan menyatukan lagi melalui doa. Karena aku percaya, doa adalah kekuatan paling terhebat yang pernah ada. Dan setidaknya itu membuat aku lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
             
Terhitung mulai dari sekarang, aku hanya akan mencintaimu lewat diamku. Aku hanya akan bertemu denganmu lewat mimpiku. Aku hanya akan menyentuhmu lewat doaku. Dan aku hanya akan mengenangmu lewat pejaman mataku. Hanya itu yang bisa aku lakukan setelah kita atau lebih tepatnya kamu ingin sendiri.
            
Aku berharap, cinta dalam diam ini tidak akan menimbulkan sakit yang begitu mendalam saat aku tahu nantinya kamu bersama dengan pilihan hatimu di seberang mataku. Dan aku berharap, cinta ini menjadi kekuatan tersendiri untukku. Satu lagi, aku tidak akan membencimu, itu lebih baik bukan.