Rabu, 29 April 2015

Bolehkah?

Bolehkah aku berharap, menunggumu pulang di depan pintu dan memelukmu kembali?
Setelah aku melewati bulan-bulan kesendirianku, aku selalu saja meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Aku selalu berhasil bersembunyi di sepotong hati rapuhku. Tertawa riang layaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Merasa tidak pernah kehilangan seorang lelaki yang berpengaruh di kehidupanku selama dua setengah tahun. Lelaki bermata sipit itu...

Bukankah aku hebat, bisa menyembunyikan semuanya dari siapapun. Bahkan aku lebih jago berakting dari aktris-aktris yang katanya jago berakting. Aku bisa menyembunyikan rasa yang sudah berakar, merasa bahagia sudah terlepas dan merasa aku baik-baik saja tanpa lelaki bermata sipit itu. Itu omong kosong, selama hampir 10 bulan ini hanya omong kosong.

Untuk kali ini aku menyerah. Jadi, bolehkah aku berharap menunggumu pulang di depan pintu dan memelukmu kembali? Karena aku lelah dan ingin bermain dengan mata sipitmu lagi seperti dulu...

Senin, 20 April 2015

R I N D U (2)

Aku tidak tahu ini disebut apa, yang jelas aku merasa sedang tidak baik-baik saja sekarang.

Sudah beberapa hari ini aku merasakan ada yang salah dengan hatiku. Hati yang sudah aku latih untuk terbiasa tanpanya. Sudah hampir setahun setelah dia pergi meninggalkan aku, aku sudah terbiasa sendiri. Bahkan aku sudah tidak berfikir lagi tentang dia. Ntah karena aku memaksa diriku sendiri untuk tidak memikirkan dia ataupun memang pada dasarnya aku sudah lupa dengan sosoknya. Kali ini aku merasakan lagi bagaimana rinduku yang terasa begitu mendalam. Aku tidak sadar jika rindu ini ternyata telah membuncah seperti ini. Selama ini aku hanya berdiam dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah lupa dengan sosoknya, tetapi ternyata aku salah dan itu yang membuat aku diam seperti sekarang ini.

Aku sudah lama tidak saling mengucap "Hai" dan sudah lama sekali tidak melihatnya. Mungkin itu yang membuat aku rindu kali ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana kabarnya dan bagaimana perjalanannya untuk mendapatkan yang dia inginkan. Bahkan aku malah mendengar semua itu dari salah satu teman perempuanku. Sungguh, saat aku mendengar temanku berbicara tentangnya aku berdoa agar aku mendengar semua itu langsung dari mulutmu. Tapi kenyataannya itu sudah tidak bisa lagi. Bahkan untuk sekadar mengirim pesan singkat "Hai" saja tidak pernah kamu lakukan padaku. Selama ini hanya aku yang memulai mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar dan mengajaknya bercanda tetapi ujung-ujungnya hanya dibiarkan saja pesanku tanpa dibalasnya. Sungguh, kamu masih sangat egois dan semua itu masih sama seperti dulu saat aku dan kamu masih menjadi kita.

Kali ini aku benar-benar tidak bisa setenang biasanya, mungkin memang rinduku ini sudah keterlaluan. Maaf jika aku merindukanmu selalu dan maaf jika aku berharap agar kamu menjemputku untuk mengajakku pulang ke pelukan hangatmu lagi.

Untuk lelaki bermata sipit yang pernah menemaniku selama dua setengah tahun,
Terima Kasih, 
Aku merindukanmu.
Surabaya, 20 April 2015

Rabu, 15 April 2015

T A K U T

Bolehkah aku memulai hidup dari awal, ber-reinkarnasi menjadi apapun atau siapapun agar dapat hidup bersamamu ?
Aku adalah seorang gadis yang selalu berada di belakang seorang lelaki yang hanya berstatus sebagai seorang sahabat. Lelaki yang selalu saja mencari gadis-gadis yang terbaik. Lelaki yang hidup dengan kesederhanaan. Lelaki yang setiap seluk beluknya aku ketahui. Lelaki yang tidak pernah canggung jika sebotol minum denganku. Lelaki yang selalu menemani setiap malamku saat aku dan dia sama-sama pulang ke kampung halaman. Dan lelaki yang di kasihi ibuk bapakku daripada lelaki-lelaki yang pernah datang ke rumahku.
Tidak dapat dimungkiri, persahabatan antara dua lawan jenis itu sangat susah sekali dipertahankan. Tetapi kali ini berbeda, kita bukan sama-sama saling tergoda. Lelaki itu masih sahabatku, lelaki itu masih menganggapku si lemot sahabatnya. Tetapi aku, mulai merasa takut kehilangan sosoknya. Mulai merasa kesal jika dia terlalu dekat dengan gadis lain. Aku mulai merasa tergoda dengan yang namanya cinta.
Tetapi aku tahu, aku dan dia tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih seperti yang pernah aku impikan. Aku tahu, sampai kapanpun aku hanya berani berada di belakangnya dan menjadi yang selalu ada saat dia membutuhkan bantuan. Bahkan aku tahu, aku tidak akan bisa selalu berdekatan dengannya lagi karena aku bukan prioritas utamanya.
Kemarin malam, dia menyapaku lewat ujung telepon. Itu kegiatanku dan dia jika kita berdua memiliki bonus telepon yang masih tersisa banyak. Dia selalu bercerita banyak hal. Mengajakku bercanda, bernyanyi yang ntah itu lagu apa tetapi selalu berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak dan membuatku kehilangan rasa kantukku, atau sekadar bertanya "piye kuliahmu?". Dan semua itu berhasil membuatku kehilangan rasa stresku yang disebabkan oleh tugas-tugas kuliah yang sedang banyak-banyaknya. Tetapi kemarin malam berbeda, dia bercerita bahwa dia menyukai seorang gadis yang juga sahabatnya dan temanku. Dia memintaku untuk memberi solusi bagaimana dan apa yang harus dia lakukan. Dan aku? aku memberinya solusi agar dia mengatakan perasaan yang dia miliki kepada gadis tersebut.
Aku tidak pernah sadar, kapan rasa itu muncul, Selesai, telepon ditutup dan akupun terdiam. Aku menerawang dan aku merasa akan kehilangan lelaki itu setelah mendengar ceritanya. Dia sahabatku, tetapi rasaku lebih dari itu.
Aku mencoba menangkis apapun yang aku rasakan, dan hari ini adalah saatnya dia mengatakan perasaannya kepada gadis itu. Aku? Aku hanya bisa menunggu kabarnya lewat teleponku malam ini.

Untuk sosok laki-laki yang selalu aku anggap abang, maaf aku memendam rasa yang tidak pernah ku sadari ternyata sudah sedalam ini. Maaf aku telah diam-diam mencintai sosokmu. Pergilah, kejar gadis impianmu! Tetapi mohon, jangan lupakan gadis lemot yang selalu membuatmu kesal saat lemot yang aku miliki ini kumat. Dan pulanglah saat kamu kecewa, aku akan membuatkan susu hangat kesukaanmu, sahabatku.

15 April 2015
Dari aku, gadis lemot sahabatmu.

Kamis, 09 April 2015

R I N D U

Rindu? Ini kata yang membuat banyak orang sesak ketika bertemu dengannya. Satu kata yang selalu berhasil membuat gelisah. Kuat dan sangat kuat. Mengikat, sesak lalu menghancurkan segala konsentrasi yang tercipta. Rindu, bukan hanya kata biasa namun kata yang bisa melemahkan hati yang dihantuinya.
Rindu? Silakan deskripsikan sendiri bagaimana menurutmu. Bagiku, yang jelas rindu adalah seperti rasa yang membiarkanmu terjepit di dalamnya. Hanya bisa apa? Mungkin hanya bisa membuatmu mengeluarkan butir-butir bening dari mata coklat milikmu lalu berdoa agar semua bisa dengan mudah terlepas tanpa menuruti apa kemauan rindu sebenarnya.

Lalu bagaimana kamu berdamai dengan rindu yang semakin menjadi-jadi?

Itu pertanyaan sulit, lebih sulit dari soal Ujian Nasional yang aku tempuh beberapa tahun lalu. Yang jelas rindu adalah masalah yang sangat sulit terpecahkan. Terlebih lagi saat kita merindui orang yang jelas saja sudah tidak mungkin lagi kita sentuh. Tetapi hanya satu yang bisa aku lakukan ketika rindu mengetuk hatiku, yaitu melukis lekuk wajahmu di pejaman mataku. Walaupun itu belum membuat rinduku hilang. Setidaknya aku berhasil menemukan bayangan seseorang yang sedang ku rindukan bukan?

Lalu kalau sudah begitu bagaimana ?

Terlalu banyak tanya soal rindu, bahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah muncul. Lebih tepatnya jarang sekali muncul. Bukankah itu hanya tentang satu kata yang dengan mudah sekali diucapkan oleh semua orang?

Coba ucapkan!

Rindu...

Rindu...

Rindu...
Mudah kan?

Tetapi mengapa sulit sekali untuk dideskripsikan? Ntahlah.

Jangan salahkan Rindu ketika memasuki hatimu terlalu dalam. Dia adalah rasa yang begitu suci dan polos. Biarkan saja, mungkin dia hanya ingin mengajakmu bernostalgia atau hanya sekadar ingin mengajakmu bermain dengan bayang-bayang seseorang.

Menganti, 9 April 2015
Tentang R I N D U.