Aku tidak tahu ini disebut apa, yang jelas aku merasa sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Sudah beberapa hari ini aku merasakan ada yang salah dengan hatiku. Hati yang sudah aku latih untuk terbiasa tanpanya. Sudah hampir setahun setelah dia pergi meninggalkan aku, aku sudah terbiasa sendiri. Bahkan aku sudah tidak berfikir lagi tentang dia. Ntah karena aku memaksa diriku sendiri untuk tidak memikirkan dia ataupun memang pada dasarnya aku sudah lupa dengan sosoknya. Kali ini aku merasakan lagi bagaimana rinduku yang terasa begitu mendalam. Aku tidak sadar jika rindu ini ternyata telah membuncah seperti ini. Selama ini aku hanya berdiam dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah lupa dengan sosoknya, tetapi ternyata aku salah dan itu yang membuat aku diam seperti sekarang ini.
Aku sudah lama tidak saling mengucap "Hai" dan sudah lama sekali tidak melihatnya. Mungkin itu yang membuat aku rindu kali ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana kabarnya dan bagaimana perjalanannya untuk mendapatkan yang dia inginkan. Bahkan aku malah mendengar semua itu dari salah satu teman perempuanku. Sungguh, saat aku mendengar temanku berbicara tentangnya aku berdoa agar aku mendengar semua itu langsung dari mulutmu. Tapi kenyataannya itu sudah tidak bisa lagi. Bahkan untuk sekadar mengirim pesan singkat "Hai" saja tidak pernah kamu lakukan padaku. Selama ini hanya aku yang memulai mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar dan mengajaknya bercanda tetapi ujung-ujungnya hanya dibiarkan saja pesanku tanpa dibalasnya. Sungguh, kamu masih sangat egois dan semua itu masih sama seperti dulu saat aku dan kamu masih menjadi kita.
Kali ini aku benar-benar tidak bisa setenang biasanya, mungkin memang rinduku ini sudah keterlaluan. Maaf jika aku merindukanmu selalu dan maaf jika aku berharap agar kamu menjemputku untuk mengajakku pulang ke pelukan hangatmu lagi.
Untuk lelaki bermata sipit yang pernah menemaniku selama dua setengah tahun,
Terima Kasih,
Aku merindukanmu.
Surabaya, 20 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar