Selasa, 13 Desember 2016

Surat Usang

            Hai, biarkan aku menyapamu disini. Maaf, aku terlalu takut untuk berkata-kata lewat akun-akun chatting pribadimu. Anggap saja ini surat kaleng meskipun pada dasarnya tidak berbentuk kaleng. Atau anggap saja ini surat elektronik? Terserah persepsimu tentang tulisan ini. Aku membebaskan kamu berimajinasi seperti biasanya.
            Biarkan aku mengungkapkan segalanya, meski nantinya jawaban yang aku baca atau aku lihat adalah “tidak”. Yang jelas aku tidak ingin diikuti oleh rasa yang tidak enak ini. Kamu tahu tidak enaknya memendam segala hal sendirian, bukan? Meski pada kenyataannya aku bercerita pada sebagian orang. Tapi tetap saja aku yang memiliki rasa.
            Maaf, awalnya kata itu yang ingin aku sampaikan. Maaf, aku terlalu merindukanmu dengan sangat baik dan rapi selama ini. Aku merindukan guyonan yang renyah lewat udara, maksudku telpon. Biar lebih puitis saja, hahaha. Aku merindukan saat-saat aku mengganggumu melihat serial anime kesukaanmu dengan chat-chat atau telpon-telponku. Aku merindukan lagu-lagu yang kamu senandungkan. Aku merindukan kejailan-kejailan yang selalu kamu ciptakan untuk membuatku tertawa. Aku merindukan membangunkanmu pada pagi hari dan mengucapkan “selamat tidur” untukmu pada malam hari. Aku merindukan ketidak jelasanmu yang berlebihan meskipun aku juga orang yang tidak jelas. Aku merindukan resahmu saat kamu memiliki beban pikiran yang mengganggu. Aku merindukan menunggu pesan singkatmu saat pulang dari kampus. Aku merindukan menangis, mengadu, dan bercerita kepadamu tentang apa yang aku rasakan. Aku merindukan kebingunganmu saat kita mau keluar untuk sekadar bertemu karena minimnya pengetahuanku tentang jalan-jalan dan tempat-tempat yang ada di Surabaya. aku merindukan saat-saat kita berdebat kecil bahkan hebat karena kangenku yang terkadang menjadikan sifat-sifat kekanak-kanakanku muncul dan membuatmu risih. Aku merindukan laut, jembatan, malam, air mancur, tanganmu, dan duduk di boncengan motormu. Aku merindukan menembus jalan Surabaya pada malam hari dan katamu “Aku jadi tour guide mu sekarang”. Aku merindukan itu semua.
            Aku telah mencapai puncaknya sekarang. Mungkin, aku telah melewatkanmu. Membiarkan diriku tenggelam dalam hal yang menurutku sangat menghimpit. Merasakan sesak dalam sesal. Dan ya, mungkin aku yang salah saat itu. Tapi jika boleh jujur, saat itu cuekmu terlalu. Aku yang juga notabene lagi sumpek-sumpeknya karena skripsi, menjadikan setiap hal yang ruwet menjadi tidak srek. Aku tahu, saat itu kamu sangat malas dengan setiap gencatan kata-kata dariku, dan akhirnya kamu hanya membaca pesanku saja tanpa membalas. Maaf, seharusnya aku tidak seperti anak kecil.
            Maaf untuk dua bulan yang mungkin tidak seindah kisah cintamu sebelum-sebelumnya. maaf, karena kamu mungkin telah salah mengenal perempuan sepertiku. Perempuan yang memiliki hati dan perasaan yang sangat sensitif dan terlalu. Perempuan yang tidak berani mengutarakan maksud dan keinginannya karena takut kamu merasa terjajah. Perempuan yang hanya bisa gerundel katamu karena memang aku sangat susah mengatakan maksudku. Bahkan saat aku menulis surat ini saja, aku harus berdebat hebat dengan perasaanku. Aku harus mengalami kebimbangan dan ketakutan yang luar biasa hingga sekarang aku berani menbiarkan jari-jariku mengetuk-ngetuk keyboard si pepong (baca: laptopku :D). Boleh aku kasih satu rahasiaku kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti ini, ini keturunan dari nenek dan ibuku. Jangan bilang-bilang, ini rahasia hahaha.
            Dan terakhir, maaf aku menanyakan ini. Biasakah aku memiliki matamu lagi? Meski aku tahu, matamu adalah milik Tuhan, ibu, dan Bapakmu. Bisakah aku belajar memahamimu lagi? meski pada nantinya caraku memahami agak sedikit salah. Bisakah kita belajar memperbaiki semuanya? Memperbaiki kisah yang rusak menjadi agak tertata rapi atau bahkan tertata dengan sangat rapi meski nantinya pasti ada goncangan-goncangan lagi. Bisakah aku memiliki kesempatan kedua untuk kembali meskipun aku telah pergi meninggalkan kamu?
            Aku tidak memaksamu untuk menjawab “bisa”. Aku hanya ingin memakai kesempatan keduaku untuk menanyakan pertanyaanku meski aku tahu nantinya jawabanmu akan mengecewakanku. Atau malah menyenangkanku? Hahaha. Aku tidak ingin menebak-nebak. Dan tenang saja, aku adalah orang yang sangat menerima segala jawaban dari pertanyaan yang terlontarkan dari pikiranku. Jadi, tidak usah khawatir.

            Terima kasih telah membaca surat ini, maaf jika penuh ketidak jelasan di dalamnya. Karena memang pada dasarnya aku adalah orang yang tidak jelas; katamu hahaha.


Menganti, 13 Desember 2016

Selasa, 13 September 2016

Rasanya Seperti Kehilangan

Kita baru saja memulai...

Sedang berjalan di Bulan ke dua, rasanya semakin hambar saja.

Dari awal perkenalan yang hanya lewat media sosial BBM, kamu sudah menarik perhatian. Kita yang diperkenalkan oleh teman, membuka obrolan asyik lewat media tersebut. Saat itu, aku yang baru saja menyelesaikan kisah dengan seorang laki-laki bahkan melupakan kesedihanku karena kedatanganmu. Tanpa jeda, chating pun berjalan. Dan aku pun jatuh Cinta, jatuh Cinta tanpa bertemu.

Awal bertemu, aku semakin jatuh Cinta. Berada di pinggir danau kampus, melihat keadaan kampus yang ntahlah. Kita membuka obrolan pertemuan pertama kalinya. Masih kaku, masih canggung. Bahkan aku bingung harus berbicara apa. Yang aku tahu saat itu, aku senang bertemu sosokmu.

Semakin lama semakin dekat saja hubungan kita. Kamu memutuskan untuk menanyakan "Kamu mau jadi pacarku?" kepadaku. Sungguh, saat itu yang ada dipikiranku hanyalah "Apa tidak terlalu cepat?". Tetapi jawabanku "YA Aku mau".

Banyak yang bertanya, "Kamu serius sayang sama dia?" dan aku selalu berpikir pertanyaan macam apa itu? Banyak juga yang memberi nasehat, "Hati-hati, kamu baru kenal. Lihaten, jangan sampai menangis untuk kedua kalinya setelah Koko". Aku pun diam, bukankah hakikat mencintai adalah kehilangan. Tetapi saat itu aku tidak berpikiran bahwa aku akan kehilangan lagi dengan cara yang cepat.

Tapi nyatanya sekarang aku kehilangan, meski nyatanya dia tidak pergi. Aku kehilangan meski nyatanya dia masih ada untukku. Aku kehilangan sosoknya yang sejak awal menyenangkan. Aku kehilangan segalanya tentang dia, meski nyatanya dia masih dia.

Magetan, 13 September 2016

Selasa, 14 Juni 2016

Kita Bersekat Meski Dekat

Pertama bertemu, tidak ada niatan sedikitpun untuk jatuh cinta hingga sedalam ini. Karena aku tahu, kita tersekat meski dekat. Kita tidak mampu melangkah lebih karena kita sadar bahwa kita berbatas.

Hubungan yang sangat susah dijalani menurutku bukanlah sebuah hubungan yang dipisahkan jarak yang sangat jauh atau biasa disebut dengan LDR. Bukan juga hubungan yang salah satu pasangannya memiliki ego tinggi. Semua itu bisa disiasati; menurutku. Hubungan yang susah adalah saat kita menjalin hubungan dengan seseorang yang setiap hari kita dapat bertemu dalam setiap harinya tetapi tidak mampu saling mengutarakan apapun. Dapat duduk berdampingan tetapi tidak bisa saling berbicara. Dapat melihat apa yang dilakukan tetapi tak dapat mencoba menemani karena ada sekat dan batas yang tidak bisa dilewati. Berpura-pura hanya aku dan kamu saja tanpa adanya kita. berpura-pura semuanya tidak terjadi apa-apa.

Hanya sesekali waktu saja, obrolan terbuka antara kita. Aku menikmati saat-saat seperti itu. Menemaninya bermain game online kesukaannya, bernyanyi, dan mungkin makan. Merasakan sisi kekanak-kanakannya, dan kebiasaannya yang sangat jahil sehingga membuatku jengkel. Sesekali mendengarnya melantunkan ayat suci Al-Quran. Itu sudah cukup, meski harus kembali berpura-pura lagi setelahnya. 

Jika dari kita lupa dan akan melangkah lebih jauh lagi, selalu aku mengingatkan bahwa "Kita bersekat". Aku dan dia seperti berperang dan harus menang. Yang ada hanya doa, berharap semoga Allah dengan baik hati memenangkan peperangan yang kita lakukan nantinya dengan hadiah surga kelak.

Jumat, 04 Maret 2016

Surat Sederhana Untuk Lelaki Sederhana

Gresik, 4 Maret 2016

Hai, malam ini aku ingin bercerita. Maaf, aku tidak bertanya tentang kabarmu terlebih dahulu. Karena yang aku tahu, kabarmu hari ini baik-baik saja. Tapi, setiap menitnya aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku juga tidak akan memperkenalkan diriku, karena aku tahu bahwa kamu sudah mengenalku. Hanya saja sebagai teman, bukan sebagai pengagummu yang hanya berani mendoakanmu dan melihat punggungmu dari belakang. Oke, sekarang bolehkah aku bercerita? Menceritakan apa yang aku rasakan selama hampir 6 bulan terakhir ini. Mari baca ceritaku!

Awalnya, aku tidak pernah beranggapan bahwa semuanya akan berubah, Terutama rasa yang tiba-tiba datang di 6 bulan terakhir ini. Semenjak teman-temanku dan bahkan bisa disebut juga dengan teman-temanmu bersemangat sekali menjodoh-jodohkan aku denganmu, aku memiliki rasa yang berbeda terhadapmu. Padahal sama sekali aku tidak pernah berfikiran bahwa semuanya akan terjadi. Kamu yang pernah datang ke rumah dengan alih-alih mengantarku pulang. Ibu dan Bapak bahkan Mbah Kakungku yang telah kamu buat nyaman dengan perbincangan singkat sore itu. serta kebaikan-kebaikan yang selalu kamu hadirkan untukku bahkan untuk orang lain telah menjadikan aku sebegini kagum atau bahkan lebih dari sekadar rasa kagum pada saat ini. Yang ku tahu itu.

Setahuku, kamu orang yang sangat baik. Lelaki sederhana yang selalu ringan tangan membantu siapapun yang membutuhkan bantuanmu, bertanggung jawab, dan kalem. Lelaki yang sangat rapi dan bersih, serta tak ketinggalan sisi religiusmu yang ntah membuat aku jatuh cinta. Apalagi kekonyolan dan kehumorisanmu yang membuat aku selalu tertawa. Ah, Tuhan sangat baik sekali telah menciptakanmu.

Oh iya, aku ingin bercerita. Aku sedang cemburu akhir-akhir ini. Cemburu karena aku tidak bisa menikmati leluconmu seperti teman-teman menikmati leluconmu biasanya. Tapi, tak apa. tak masalah buatku. Tapi ada satu yang membuatku sedang tidak baik-baik saja. Yaitu ketika kamu guyon dengan salah satu sahabatku. Menurutku kalian tanpa sungkan mengumbar tawa yang membuat hatiku sakit saat melihat kalian tertawa lepas bahkan berdiskusi serius. Ah, tahukah kalian berdua bahwa kalian selalu merubah mood baikku menjadi buruk. Membuatku tak enak melakukan apapun, membuatku malas berbicara bahkan malas melihat kalian dan ujung-ujungnya membuatku pergi dari kalian pada saat kita selokasi. Siapa yang salah saat semua itu terjadi? Aku? Kamu? Atau sahabatku? Aku tidak tahu. Tapi jangan salahkan aku jika cemburuku terlalu. Karena semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa aku kontrol. Aku tidak ingin melarang siapapun untuk menikmati leluconmu, asalkan aku ikut menikmati leluconmu. Sudah itu saja!

Bolehkan aku memberitahumu, kamu adalah laki-laki yang selalu berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak lalu menangis sesak dalam satu waktu yang jaraknya hampir bersamaan. Kamu adalah lelaki yang berhasil membuatku kagum lalu kesal saat melihat tingkahmu dalam satu waktu yang jaraknya hampir bersamaan. Bagaimana bisa kamu melakukannya? Aku selalu bertanya-tanya. Atau mungkin hanya perasaanku saja yang membuatku menjadi seperti ini. Ntahlah...

Terakhir.

Sebetulnya, aku tahu bahwa kamu tahu kalau aku menganggumi sosokmu, hanya saja aku tahu bahwa kamu tidak peduli padaku. Tak apa, tak masalah. Tapi, ijinkan aku untuk merapal namamu dalam doaku dan menyimpan rasa ini sendirian. Biarkan, tidak perlu kamu peduli dan membalas. Aku tidak memaksa. Yang jelas, aku sangat bersyukur sekali kepada Tuhan karena telah menciptakan lelaki sederhana sepertimu meski bukan untukku.

Untukmu,
Lelaki sederhana yang hanya bisa kulihat tanpa berani ku sentuh,
Alhamdulillah, Allah telah baik menciptakanmu.

Selasa, 20 Oktober 2015

PEDULI

Mungkin peduliku terlalu, mengejar-ngejarmu dengan hal yang menurutmu sangat tidak penting. Membuatmu semakin malas untuk melihatku sebagai perempuan yang selalu ingin berada di sampingmu dan memperhatikanmu.

Mungkin peduliku terlalu, karena kamu memang tidak mengerti apa itu arti peduli. Membiarkanku selalu peduli namun tak dipedulikan. Menganggap segalanya biasa saja padahal dulu kita sama-sama pernah saling peduli. Hanya saja sekarang pedulimu telah habis dimakan waktu dan tinggal aku yang masih memiliki peduli sangat menumpuk.

Mungkin peduliku terlalu, kepada kamu yang sudah tidak lagi ingin mendapat rasa peduli dari aku. Padahal aku sangat mengkhawatirkan hidupmu yang aku tahu sangat berat sekali. Aku hanya ingin menjadi tempat keluh kesahmu seperti dulu, tapi kau masih saja berdiam menganggap peduliku terlalu berlebihan.

Jika aku bisa merubah segala rasa peduliku ini, aku ingin menguranginya. Agar kamu tidak lagi malas dengan peduliku. Tetapi aku tidak bisa. Rasa itu masih sama. Tapi kau tidak pernah tahu rasa peduliku yang membuatku menjadi gelisah karena mengkhawatirkanmu.


Maaf dengan rasa peduliku, aku belum terbiasa untuk menjadi tidak memiliki perasaan terhadapmu...

Senin, 28 September 2015

PERGI.

Pergi...
          Bukankah semua orang akan pergi jika sudah saatnya?
          Semakin larut waktu itu, aku merasakan semuanya semakin dingin saja. Bahkan semakin jauh untuk dirasakan lagi. Rasanya kaku, beku, dan canggung. Mimpi-mimpi buruk setiap malam berdatangan tak tentu. Mengganggu tidur-tidur malam, mengajakku melamun setiap harinya. Ada apa? Pikirku.
          Sudah dua tahun setengah, aku membingkai memori dan menulis cerita di kehidupanku bersama seorang laki-laki sederhana. Merajut kasih setiap detiknya. Mencecap tawa, membentuk senyum satu sama lain. Terkadang menghadirkan tangisan-tangisan, teriakan bahkan pertengkaran yang sudah sangat biasa. Aku menerimanya, semua yang ada pada dirinya.  Mengindahkan hati dan dirinya di depan kedua orang tuaku dan keluargaku. Membuat kedua orang tua dan kakak perempuannya menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka. Berjuang membawa nama baiknya di depan semua orang yang tidak menyukainya.  Selama dua setengah tahun itu pula, aku menahan rasa sakit setiap malam. Menyembunyikan tangis sesenggukanku karena memang terlalu banyak sakit yang harus ditanggung. Menyedihkan? Tidak, karena aku mencintai lelaki itu.
          Kami sempat mengalami saat dimana kami harus saling jauh yang biasanya di sebut LDR. Aku berada di sebuah kota metropolitan terbesar nomor dua di Indonesia untuk meneruskan studiku, sedangkan dia masih berada di salah satu desa dimana kita sama-sama tinggal dengan ambisi-ambisinya. Di waktu-waktu inilah kami merasakan sesak yang mendalam, ketika bertemu sangat sulit untuk dilakukan. Hanya dengan suara saja kita bisa ber “hallo” ria, bercinta tanpa bersua. Mengundang tawa dan tangis. Hanya lewat telepon genggam. Sesekali aku pulang untuk bertemu dengannya, hanya sekadar ingin memuaskan rinduku. Meraba wajahnya, memeluk dan bermanja-manja di lengannya. Melihat lesung pipinya yang terbentuk karena tawa. Aku rela membiarkan tubuhku lelah karena libur hanya sebentar untuk bertemu dengannya.
          Tetapi kisah membahagiakan itu kandas begitu saja saat keegoisan merajalela. Aku, yang hanya gadis kekanak-kanakan hanya menginginkan sedikit waktu saja bertemu dengannya pada suatu ketika. Rela berdiam diri selama sebulan tidak bertemu, padahal saat itu aku sedang libur dan di rumah. Setiap malam menunggu, mencoba membentuk bayangnya, berharap dia datang untuk sekadar memelukku.
          Pertengkaran itu tiba saat aku berada pada puncak kangen yang ntahlah sudah pada level berapa. Aku mengirim pesan singkat kepadanya, berharap dia datang ke rumah sebentar saja untuk duduk dan memelukku. Tapi dia tidak mengerti. Memutuskan hubungan begitu saja dengan alasan yang tidak harus dijadikan alasan. Alasan bohong dan munafik yang selalu diucapkan laki-laki. Semudah itu dia pergi, memecahkan bingkai memoriku, mencoret-coret cerita yang telah aku susun sedemikian apik. Membuyarkan mimpiku yang aku rangkai bersamanya.
          Dan kini, sudah satu tahun lebih aku sendirian menyusun pecahan-pecahan bingkai memoriku. Sendiri.  Walaupun sudah tidak akan bisa lagi menyatu. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya kali ini, aku kehilangan jejaknya. Tuhan terlalu baik kapadaku, mungkin ini salah satunya jalan untukku agar aku menghapus perlahan-lahan jalan ceritaku dan menyelesaikan ceritaku secara sendiri dan berani sampai Dia mempertemukanku dengan lelaki dunia akhiratku nantinya.

          Untuk lelaki yang pernah membantuku membuat cerita selama dua setengah tahun itu, terima kasih banyak untuk apapun. Terima kasih karena telah mengajariku banyak hal, meminjamkan hatimu untukku sementara. Jalan cerita ini akan aku selesaikan sendiri, ntah tanpamu atau denganmu nantinya. 

Rabu, 02 September 2015

Mungkinkah?

Aku sedang berpikir, apa yang terjadi padaku kali ini adalah benar?
Atau hanya ilusi dan mimpi sesaat?
Ketika sudah hampir satu tahun lamanya Aku berdiam diri sendiri merapikan kekacauan yang ada pada diriku.

Ada yang datang, bisa saja di sebut dengan cara tiba-tiba. Dimulai dengan ocehan-ocehan kecil tentang hidupnya.
Ntah bagaimana tiba-tiba bisa sampai pada sebuah kecocokan.
Secepat inikah? Aku tidak tahu jawabannya.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
Yang Aku tahu, mendengar suaranya adalah menyenangkan dan membiarkannya lama-lama tidak menghubungiku adalah sepi.
Banyak hal yang terpikirkan?
Bisakah?
Padahal Aku dan dia sama-sama saling sulit melupa masa lalu.
Yang Aku tahu dan Aku dengar darinya adalah, niatnya untuk meneruskan cerita bersama.
Hanya ada Aku dan dia, walaupun jarak sangat jahat untuk memisahkan.