Hai, biarkan
aku menyapamu disini. Maaf, aku terlalu takut untuk berkata-kata lewat
akun-akun chatting pribadimu. Anggap saja ini surat kaleng meskipun pada
dasarnya tidak berbentuk kaleng. Atau anggap saja ini surat elektronik?
Terserah persepsimu tentang tulisan ini. Aku membebaskan kamu berimajinasi
seperti biasanya.
Biarkan aku
mengungkapkan segalanya, meski nantinya jawaban yang aku baca atau aku lihat
adalah “tidak”. Yang jelas aku tidak ingin diikuti oleh rasa yang tidak enak
ini. Kamu tahu tidak enaknya memendam segala hal sendirian, bukan? Meski pada
kenyataannya aku bercerita pada sebagian orang. Tapi tetap saja aku yang
memiliki rasa.
Maaf,
awalnya kata itu yang ingin aku sampaikan. Maaf, aku terlalu merindukanmu
dengan sangat baik dan rapi selama ini. Aku merindukan guyonan yang renyah
lewat udara, maksudku telpon. Biar lebih puitis saja, hahaha. Aku merindukan
saat-saat aku mengganggumu melihat serial anime kesukaanmu dengan chat-chat
atau telpon-telponku. Aku merindukan lagu-lagu yang kamu senandungkan. Aku
merindukan kejailan-kejailan yang selalu kamu ciptakan untuk membuatku tertawa.
Aku merindukan membangunkanmu pada pagi hari dan mengucapkan “selamat tidur”
untukmu pada malam hari. Aku merindukan ketidak jelasanmu yang berlebihan meskipun
aku juga orang yang tidak jelas. Aku merindukan resahmu saat kamu memiliki
beban pikiran yang mengganggu. Aku merindukan menunggu pesan singkatmu saat
pulang dari kampus. Aku merindukan menangis, mengadu, dan bercerita kepadamu
tentang apa yang aku rasakan. Aku merindukan kebingunganmu saat kita mau keluar
untuk sekadar bertemu karena minimnya pengetahuanku tentang jalan-jalan dan
tempat-tempat yang ada di Surabaya. aku merindukan saat-saat kita berdebat
kecil bahkan hebat karena kangenku yang terkadang menjadikan sifat-sifat
kekanak-kanakanku muncul dan membuatmu risih. Aku merindukan laut, jembatan,
malam, air mancur, tanganmu, dan duduk di boncengan motormu. Aku merindukan
menembus jalan Surabaya pada malam hari dan katamu “Aku jadi tour guide mu sekarang”.
Aku merindukan itu semua.
Aku telah
mencapai puncaknya sekarang. Mungkin, aku telah melewatkanmu. Membiarkan diriku
tenggelam dalam hal yang menurutku sangat menghimpit. Merasakan sesak dalam
sesal. Dan ya, mungkin aku yang salah saat itu. Tapi jika boleh jujur, saat itu
cuekmu terlalu. Aku yang juga notabene lagi sumpek-sumpeknya karena skripsi,
menjadikan setiap hal yang ruwet menjadi tidak srek. Aku tahu, saat itu kamu
sangat malas dengan setiap gencatan kata-kata dariku, dan akhirnya kamu hanya
membaca pesanku saja tanpa membalas. Maaf, seharusnya aku tidak seperti anak
kecil.
Maaf untuk
dua bulan yang mungkin tidak seindah kisah cintamu sebelum-sebelumnya. maaf,
karena kamu mungkin telah salah mengenal perempuan sepertiku. Perempuan yang
memiliki hati dan perasaan yang sangat sensitif dan terlalu. Perempuan yang
tidak berani mengutarakan maksud dan keinginannya karena takut kamu merasa
terjajah. Perempuan yang hanya bisa gerundel
katamu karena memang aku sangat susah mengatakan maksudku. Bahkan saat aku
menulis surat ini saja, aku harus berdebat hebat dengan perasaanku. Aku harus
mengalami kebimbangan dan ketakutan yang luar biasa hingga sekarang aku berani
menbiarkan jari-jariku mengetuk-ngetuk keyboard si pepong (baca: laptopku :D).
Boleh aku kasih satu rahasiaku kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti ini,
ini keturunan dari nenek dan ibuku. Jangan bilang-bilang, ini rahasia hahaha.
Dan
terakhir, maaf aku menanyakan ini. Biasakah aku memiliki matamu lagi? Meski aku
tahu, matamu adalah milik Tuhan, ibu, dan Bapakmu. Bisakah aku belajar
memahamimu lagi? meski pada nantinya caraku memahami agak sedikit salah.
Bisakah kita belajar memperbaiki semuanya? Memperbaiki kisah yang rusak menjadi
agak tertata rapi atau bahkan tertata dengan sangat rapi meski nantinya pasti
ada goncangan-goncangan lagi. Bisakah aku memiliki kesempatan kedua untuk
kembali meskipun aku telah pergi meninggalkan kamu?
Aku tidak
memaksamu untuk menjawab “bisa”. Aku hanya ingin memakai kesempatan keduaku
untuk menanyakan pertanyaanku meski aku tahu nantinya jawabanmu akan
mengecewakanku. Atau malah menyenangkanku? Hahaha. Aku tidak ingin
menebak-nebak. Dan tenang saja, aku adalah orang yang sangat menerima segala
jawaban dari pertanyaan yang terlontarkan dari pikiranku. Jadi, tidak usah
khawatir.
Terima kasih
telah membaca surat ini, maaf jika penuh ketidak jelasan di dalamnya. Karena
memang pada dasarnya aku adalah orang yang tidak jelas; katamu hahaha.
Menganti, 13 Desember 2016