Senin, 28 September 2015

PERGI.

Pergi...
          Bukankah semua orang akan pergi jika sudah saatnya?
          Semakin larut waktu itu, aku merasakan semuanya semakin dingin saja. Bahkan semakin jauh untuk dirasakan lagi. Rasanya kaku, beku, dan canggung. Mimpi-mimpi buruk setiap malam berdatangan tak tentu. Mengganggu tidur-tidur malam, mengajakku melamun setiap harinya. Ada apa? Pikirku.
          Sudah dua tahun setengah, aku membingkai memori dan menulis cerita di kehidupanku bersama seorang laki-laki sederhana. Merajut kasih setiap detiknya. Mencecap tawa, membentuk senyum satu sama lain. Terkadang menghadirkan tangisan-tangisan, teriakan bahkan pertengkaran yang sudah sangat biasa. Aku menerimanya, semua yang ada pada dirinya.  Mengindahkan hati dan dirinya di depan kedua orang tuaku dan keluargaku. Membuat kedua orang tua dan kakak perempuannya menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka. Berjuang membawa nama baiknya di depan semua orang yang tidak menyukainya.  Selama dua setengah tahun itu pula, aku menahan rasa sakit setiap malam. Menyembunyikan tangis sesenggukanku karena memang terlalu banyak sakit yang harus ditanggung. Menyedihkan? Tidak, karena aku mencintai lelaki itu.
          Kami sempat mengalami saat dimana kami harus saling jauh yang biasanya di sebut LDR. Aku berada di sebuah kota metropolitan terbesar nomor dua di Indonesia untuk meneruskan studiku, sedangkan dia masih berada di salah satu desa dimana kita sama-sama tinggal dengan ambisi-ambisinya. Di waktu-waktu inilah kami merasakan sesak yang mendalam, ketika bertemu sangat sulit untuk dilakukan. Hanya dengan suara saja kita bisa ber “hallo” ria, bercinta tanpa bersua. Mengundang tawa dan tangis. Hanya lewat telepon genggam. Sesekali aku pulang untuk bertemu dengannya, hanya sekadar ingin memuaskan rinduku. Meraba wajahnya, memeluk dan bermanja-manja di lengannya. Melihat lesung pipinya yang terbentuk karena tawa. Aku rela membiarkan tubuhku lelah karena libur hanya sebentar untuk bertemu dengannya.
          Tetapi kisah membahagiakan itu kandas begitu saja saat keegoisan merajalela. Aku, yang hanya gadis kekanak-kanakan hanya menginginkan sedikit waktu saja bertemu dengannya pada suatu ketika. Rela berdiam diri selama sebulan tidak bertemu, padahal saat itu aku sedang libur dan di rumah. Setiap malam menunggu, mencoba membentuk bayangnya, berharap dia datang untuk sekadar memelukku.
          Pertengkaran itu tiba saat aku berada pada puncak kangen yang ntahlah sudah pada level berapa. Aku mengirim pesan singkat kepadanya, berharap dia datang ke rumah sebentar saja untuk duduk dan memelukku. Tapi dia tidak mengerti. Memutuskan hubungan begitu saja dengan alasan yang tidak harus dijadikan alasan. Alasan bohong dan munafik yang selalu diucapkan laki-laki. Semudah itu dia pergi, memecahkan bingkai memoriku, mencoret-coret cerita yang telah aku susun sedemikian apik. Membuyarkan mimpiku yang aku rangkai bersamanya.
          Dan kini, sudah satu tahun lebih aku sendirian menyusun pecahan-pecahan bingkai memoriku. Sendiri.  Walaupun sudah tidak akan bisa lagi menyatu. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya kali ini, aku kehilangan jejaknya. Tuhan terlalu baik kapadaku, mungkin ini salah satunya jalan untukku agar aku menghapus perlahan-lahan jalan ceritaku dan menyelesaikan ceritaku secara sendiri dan berani sampai Dia mempertemukanku dengan lelaki dunia akhiratku nantinya.

          Untuk lelaki yang pernah membantuku membuat cerita selama dua setengah tahun itu, terima kasih banyak untuk apapun. Terima kasih karena telah mengajariku banyak hal, meminjamkan hatimu untukku sementara. Jalan cerita ini akan aku selesaikan sendiri, ntah tanpamu atau denganmu nantinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar