Pergi...
Bukankah semua orang akan pergi jika sudah saatnya?
Semakin larut waktu itu, aku merasakan semuanya semakin
dingin saja. Bahkan semakin jauh untuk dirasakan lagi. Rasanya kaku, beku, dan
canggung. Mimpi-mimpi buruk setiap malam berdatangan tak tentu. Mengganggu
tidur-tidur malam, mengajakku melamun setiap harinya. Ada apa? Pikirku.
Sudah dua tahun setengah, aku membingkai memori dan menulis
cerita di kehidupanku bersama seorang laki-laki sederhana. Merajut kasih setiap
detiknya. Mencecap tawa, membentuk senyum satu sama lain. Terkadang
menghadirkan tangisan-tangisan, teriakan bahkan pertengkaran yang sudah sangat
biasa. Aku menerimanya, semua yang ada pada dirinya. Mengindahkan hati dan dirinya di depan kedua
orang tuaku dan keluargaku. Membuat kedua orang tua dan kakak perempuannya
menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka. Berjuang membawa nama baiknya di
depan semua orang yang tidak menyukainya.
Selama dua setengah tahun itu pula, aku menahan rasa sakit setiap malam.
Menyembunyikan tangis sesenggukanku karena memang terlalu banyak sakit yang
harus ditanggung. Menyedihkan? Tidak, karena aku mencintai lelaki itu.
Kami sempat mengalami saat dimana kami harus saling jauh
yang biasanya di sebut LDR. Aku berada di sebuah kota metropolitan terbesar
nomor dua di Indonesia untuk meneruskan studiku, sedangkan dia masih berada di
salah satu desa dimana kita sama-sama tinggal dengan ambisi-ambisinya. Di
waktu-waktu inilah kami merasakan sesak yang mendalam, ketika bertemu sangat
sulit untuk dilakukan. Hanya dengan suara saja kita bisa ber “hallo” ria,
bercinta tanpa bersua. Mengundang tawa dan tangis. Hanya lewat telepon genggam.
Sesekali aku pulang untuk bertemu dengannya, hanya sekadar ingin memuaskan
rinduku. Meraba wajahnya, memeluk dan bermanja-manja di lengannya. Melihat
lesung pipinya yang terbentuk karena tawa. Aku rela membiarkan tubuhku lelah
karena libur hanya sebentar untuk bertemu dengannya.
Tetapi kisah membahagiakan itu kandas begitu saja saat
keegoisan merajalela. Aku, yang hanya gadis kekanak-kanakan hanya menginginkan
sedikit waktu saja bertemu dengannya pada suatu ketika. Rela berdiam diri
selama sebulan tidak bertemu, padahal saat itu aku sedang libur dan di rumah.
Setiap malam menunggu, mencoba membentuk bayangnya, berharap dia datang untuk
sekadar memelukku.
Pertengkaran itu tiba saat aku berada pada puncak kangen
yang ntahlah sudah pada level berapa. Aku mengirim pesan singkat kepadanya,
berharap dia datang ke rumah sebentar saja untuk duduk dan memelukku. Tapi dia
tidak mengerti. Memutuskan hubungan begitu saja dengan alasan yang tidak harus dijadikan
alasan. Alasan bohong dan munafik yang selalu diucapkan laki-laki. Semudah itu
dia pergi, memecahkan bingkai memoriku, mencoret-coret cerita yang telah aku
susun sedemikian apik. Membuyarkan mimpiku yang aku rangkai bersamanya.
Dan kini, sudah satu tahun lebih aku sendirian menyusun
pecahan-pecahan bingkai memoriku. Sendiri.
Walaupun sudah tidak akan bisa lagi menyatu. Aku tidak tahu bagaimana
kabarnya kali ini, aku kehilangan jejaknya. Tuhan terlalu baik kapadaku,
mungkin ini salah satunya jalan untukku agar aku menghapus perlahan-lahan jalan
ceritaku dan menyelesaikan ceritaku secara sendiri dan berani sampai Dia
mempertemukanku dengan lelaki dunia akhiratku nantinya.
Untuk lelaki yang pernah membantuku membuat cerita selama
dua setengah tahun itu, terima kasih banyak untuk apapun. Terima kasih karena
telah mengajariku banyak hal, meminjamkan hatimu untukku sementara. Jalan
cerita ini akan aku selesaikan sendiri, ntah tanpamu atau denganmu nantinya.