Selasa, 20 Oktober 2015

PEDULI

Mungkin peduliku terlalu, mengejar-ngejarmu dengan hal yang menurutmu sangat tidak penting. Membuatmu semakin malas untuk melihatku sebagai perempuan yang selalu ingin berada di sampingmu dan memperhatikanmu.

Mungkin peduliku terlalu, karena kamu memang tidak mengerti apa itu arti peduli. Membiarkanku selalu peduli namun tak dipedulikan. Menganggap segalanya biasa saja padahal dulu kita sama-sama pernah saling peduli. Hanya saja sekarang pedulimu telah habis dimakan waktu dan tinggal aku yang masih memiliki peduli sangat menumpuk.

Mungkin peduliku terlalu, kepada kamu yang sudah tidak lagi ingin mendapat rasa peduli dari aku. Padahal aku sangat mengkhawatirkan hidupmu yang aku tahu sangat berat sekali. Aku hanya ingin menjadi tempat keluh kesahmu seperti dulu, tapi kau masih saja berdiam menganggap peduliku terlalu berlebihan.

Jika aku bisa merubah segala rasa peduliku ini, aku ingin menguranginya. Agar kamu tidak lagi malas dengan peduliku. Tetapi aku tidak bisa. Rasa itu masih sama. Tapi kau tidak pernah tahu rasa peduliku yang membuatku menjadi gelisah karena mengkhawatirkanmu.


Maaf dengan rasa peduliku, aku belum terbiasa untuk menjadi tidak memiliki perasaan terhadapmu...

Senin, 28 September 2015

PERGI.

Pergi...
          Bukankah semua orang akan pergi jika sudah saatnya?
          Semakin larut waktu itu, aku merasakan semuanya semakin dingin saja. Bahkan semakin jauh untuk dirasakan lagi. Rasanya kaku, beku, dan canggung. Mimpi-mimpi buruk setiap malam berdatangan tak tentu. Mengganggu tidur-tidur malam, mengajakku melamun setiap harinya. Ada apa? Pikirku.
          Sudah dua tahun setengah, aku membingkai memori dan menulis cerita di kehidupanku bersama seorang laki-laki sederhana. Merajut kasih setiap detiknya. Mencecap tawa, membentuk senyum satu sama lain. Terkadang menghadirkan tangisan-tangisan, teriakan bahkan pertengkaran yang sudah sangat biasa. Aku menerimanya, semua yang ada pada dirinya.  Mengindahkan hati dan dirinya di depan kedua orang tuaku dan keluargaku. Membuat kedua orang tua dan kakak perempuannya menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka. Berjuang membawa nama baiknya di depan semua orang yang tidak menyukainya.  Selama dua setengah tahun itu pula, aku menahan rasa sakit setiap malam. Menyembunyikan tangis sesenggukanku karena memang terlalu banyak sakit yang harus ditanggung. Menyedihkan? Tidak, karena aku mencintai lelaki itu.
          Kami sempat mengalami saat dimana kami harus saling jauh yang biasanya di sebut LDR. Aku berada di sebuah kota metropolitan terbesar nomor dua di Indonesia untuk meneruskan studiku, sedangkan dia masih berada di salah satu desa dimana kita sama-sama tinggal dengan ambisi-ambisinya. Di waktu-waktu inilah kami merasakan sesak yang mendalam, ketika bertemu sangat sulit untuk dilakukan. Hanya dengan suara saja kita bisa ber “hallo” ria, bercinta tanpa bersua. Mengundang tawa dan tangis. Hanya lewat telepon genggam. Sesekali aku pulang untuk bertemu dengannya, hanya sekadar ingin memuaskan rinduku. Meraba wajahnya, memeluk dan bermanja-manja di lengannya. Melihat lesung pipinya yang terbentuk karena tawa. Aku rela membiarkan tubuhku lelah karena libur hanya sebentar untuk bertemu dengannya.
          Tetapi kisah membahagiakan itu kandas begitu saja saat keegoisan merajalela. Aku, yang hanya gadis kekanak-kanakan hanya menginginkan sedikit waktu saja bertemu dengannya pada suatu ketika. Rela berdiam diri selama sebulan tidak bertemu, padahal saat itu aku sedang libur dan di rumah. Setiap malam menunggu, mencoba membentuk bayangnya, berharap dia datang untuk sekadar memelukku.
          Pertengkaran itu tiba saat aku berada pada puncak kangen yang ntahlah sudah pada level berapa. Aku mengirim pesan singkat kepadanya, berharap dia datang ke rumah sebentar saja untuk duduk dan memelukku. Tapi dia tidak mengerti. Memutuskan hubungan begitu saja dengan alasan yang tidak harus dijadikan alasan. Alasan bohong dan munafik yang selalu diucapkan laki-laki. Semudah itu dia pergi, memecahkan bingkai memoriku, mencoret-coret cerita yang telah aku susun sedemikian apik. Membuyarkan mimpiku yang aku rangkai bersamanya.
          Dan kini, sudah satu tahun lebih aku sendirian menyusun pecahan-pecahan bingkai memoriku. Sendiri.  Walaupun sudah tidak akan bisa lagi menyatu. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya kali ini, aku kehilangan jejaknya. Tuhan terlalu baik kapadaku, mungkin ini salah satunya jalan untukku agar aku menghapus perlahan-lahan jalan ceritaku dan menyelesaikan ceritaku secara sendiri dan berani sampai Dia mempertemukanku dengan lelaki dunia akhiratku nantinya.

          Untuk lelaki yang pernah membantuku membuat cerita selama dua setengah tahun itu, terima kasih banyak untuk apapun. Terima kasih karena telah mengajariku banyak hal, meminjamkan hatimu untukku sementara. Jalan cerita ini akan aku selesaikan sendiri, ntah tanpamu atau denganmu nantinya. 

Rabu, 02 September 2015

Mungkinkah?

Aku sedang berpikir, apa yang terjadi padaku kali ini adalah benar?
Atau hanya ilusi dan mimpi sesaat?
Ketika sudah hampir satu tahun lamanya Aku berdiam diri sendiri merapikan kekacauan yang ada pada diriku.

Ada yang datang, bisa saja di sebut dengan cara tiba-tiba. Dimulai dengan ocehan-ocehan kecil tentang hidupnya.
Ntah bagaimana tiba-tiba bisa sampai pada sebuah kecocokan.
Secepat inikah? Aku tidak tahu jawabannya.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
Yang Aku tahu, mendengar suaranya adalah menyenangkan dan membiarkannya lama-lama tidak menghubungiku adalah sepi.
Banyak hal yang terpikirkan?
Bisakah?
Padahal Aku dan dia sama-sama saling sulit melupa masa lalu.
Yang Aku tahu dan Aku dengar darinya adalah, niatnya untuk meneruskan cerita bersama.
Hanya ada Aku dan dia, walaupun jarak sangat jahat untuk memisahkan.

Kamis, 30 Juli 2015

Sulit (Aku dan Kamu ini Siapa?)

Ini bukan hanya tentang kamu, tetapi juga tentang aku.

Sudah setahun lebih aku memutuskan untuk berjalan sendiri. Setelah mengerti rasanya tersakiti secara perlahan-lahan dan rapi, sudah tidak ada hasrat lagi untuk menjajaki dongeng baru dengan orang yang berbeda. Yang ada hanya kata "aku ingin sendiri".

Tetapi, kata itu hilang perlahan-lahan ketika aku bertemu dengan laki-laki yang menurutku berbeda. Kerajinan dalam beribadah dan mengabdikan dirinya pada Tuhan yang membuat aku ingin menghidupkan lagi dongeng yang telah lama tidak ku teruskan.

Seketika itu kami dekat, ntah sebagai apa. Tidak ada yang memperjelas status kita. Tapi yang aku tahu, aku menjalaninya tanpa merasa ada aku. Semuanya tentang kamu, tentang semua yang harus aku patuhi. Tentang hubungan yang tidak jelas dan aku harus selalu mengerti bagaimana kamu. Bahkan saat aku meminta untuk kejelasan status, kamu selalu menghindar dan tidak mau menjawab. Apa itu adil?

Untuk setiap hal yang terjadi, aku ini memiliki hati. Semua ini bukan hanya tentang kamu dan egomu saja. Disini masih ada seseorang yang ntah ternyata sekarang sudah mulai merapal namamu dalam doanya. Mulai menyimpan rasa yang mendalam terhadapmu, dan mulai ingin menjalani hal yang nyata denganmu.

Magetan, 30 Juli 2015.
Aku, Adik yang mulai cemas jika Mas pergi.

Rabu, 29 April 2015

Bolehkah?

Bolehkah aku berharap, menunggumu pulang di depan pintu dan memelukmu kembali?
Setelah aku melewati bulan-bulan kesendirianku, aku selalu saja meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Aku selalu berhasil bersembunyi di sepotong hati rapuhku. Tertawa riang layaknya tidak pernah terjadi apa-apa. Merasa tidak pernah kehilangan seorang lelaki yang berpengaruh di kehidupanku selama dua setengah tahun. Lelaki bermata sipit itu...

Bukankah aku hebat, bisa menyembunyikan semuanya dari siapapun. Bahkan aku lebih jago berakting dari aktris-aktris yang katanya jago berakting. Aku bisa menyembunyikan rasa yang sudah berakar, merasa bahagia sudah terlepas dan merasa aku baik-baik saja tanpa lelaki bermata sipit itu. Itu omong kosong, selama hampir 10 bulan ini hanya omong kosong.

Untuk kali ini aku menyerah. Jadi, bolehkah aku berharap menunggumu pulang di depan pintu dan memelukmu kembali? Karena aku lelah dan ingin bermain dengan mata sipitmu lagi seperti dulu...

Senin, 20 April 2015

R I N D U (2)

Aku tidak tahu ini disebut apa, yang jelas aku merasa sedang tidak baik-baik saja sekarang.

Sudah beberapa hari ini aku merasakan ada yang salah dengan hatiku. Hati yang sudah aku latih untuk terbiasa tanpanya. Sudah hampir setahun setelah dia pergi meninggalkan aku, aku sudah terbiasa sendiri. Bahkan aku sudah tidak berfikir lagi tentang dia. Ntah karena aku memaksa diriku sendiri untuk tidak memikirkan dia ataupun memang pada dasarnya aku sudah lupa dengan sosoknya. Kali ini aku merasakan lagi bagaimana rinduku yang terasa begitu mendalam. Aku tidak sadar jika rindu ini ternyata telah membuncah seperti ini. Selama ini aku hanya berdiam dan meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah lupa dengan sosoknya, tetapi ternyata aku salah dan itu yang membuat aku diam seperti sekarang ini.

Aku sudah lama tidak saling mengucap "Hai" dan sudah lama sekali tidak melihatnya. Mungkin itu yang membuat aku rindu kali ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana kabarnya dan bagaimana perjalanannya untuk mendapatkan yang dia inginkan. Bahkan aku malah mendengar semua itu dari salah satu teman perempuanku. Sungguh, saat aku mendengar temanku berbicara tentangnya aku berdoa agar aku mendengar semua itu langsung dari mulutmu. Tapi kenyataannya itu sudah tidak bisa lagi. Bahkan untuk sekadar mengirim pesan singkat "Hai" saja tidak pernah kamu lakukan padaku. Selama ini hanya aku yang memulai mengirim pesan singkat untuk sekadar bertanya kabar dan mengajaknya bercanda tetapi ujung-ujungnya hanya dibiarkan saja pesanku tanpa dibalasnya. Sungguh, kamu masih sangat egois dan semua itu masih sama seperti dulu saat aku dan kamu masih menjadi kita.

Kali ini aku benar-benar tidak bisa setenang biasanya, mungkin memang rinduku ini sudah keterlaluan. Maaf jika aku merindukanmu selalu dan maaf jika aku berharap agar kamu menjemputku untuk mengajakku pulang ke pelukan hangatmu lagi.

Untuk lelaki bermata sipit yang pernah menemaniku selama dua setengah tahun,
Terima Kasih, 
Aku merindukanmu.
Surabaya, 20 April 2015

Rabu, 15 April 2015

T A K U T

Bolehkah aku memulai hidup dari awal, ber-reinkarnasi menjadi apapun atau siapapun agar dapat hidup bersamamu ?
Aku adalah seorang gadis yang selalu berada di belakang seorang lelaki yang hanya berstatus sebagai seorang sahabat. Lelaki yang selalu saja mencari gadis-gadis yang terbaik. Lelaki yang hidup dengan kesederhanaan. Lelaki yang setiap seluk beluknya aku ketahui. Lelaki yang tidak pernah canggung jika sebotol minum denganku. Lelaki yang selalu menemani setiap malamku saat aku dan dia sama-sama pulang ke kampung halaman. Dan lelaki yang di kasihi ibuk bapakku daripada lelaki-lelaki yang pernah datang ke rumahku.
Tidak dapat dimungkiri, persahabatan antara dua lawan jenis itu sangat susah sekali dipertahankan. Tetapi kali ini berbeda, kita bukan sama-sama saling tergoda. Lelaki itu masih sahabatku, lelaki itu masih menganggapku si lemot sahabatnya. Tetapi aku, mulai merasa takut kehilangan sosoknya. Mulai merasa kesal jika dia terlalu dekat dengan gadis lain. Aku mulai merasa tergoda dengan yang namanya cinta.
Tetapi aku tahu, aku dan dia tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih seperti yang pernah aku impikan. Aku tahu, sampai kapanpun aku hanya berani berada di belakangnya dan menjadi yang selalu ada saat dia membutuhkan bantuan. Bahkan aku tahu, aku tidak akan bisa selalu berdekatan dengannya lagi karena aku bukan prioritas utamanya.
Kemarin malam, dia menyapaku lewat ujung telepon. Itu kegiatanku dan dia jika kita berdua memiliki bonus telepon yang masih tersisa banyak. Dia selalu bercerita banyak hal. Mengajakku bercanda, bernyanyi yang ntah itu lagu apa tetapi selalu berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak dan membuatku kehilangan rasa kantukku, atau sekadar bertanya "piye kuliahmu?". Dan semua itu berhasil membuatku kehilangan rasa stresku yang disebabkan oleh tugas-tugas kuliah yang sedang banyak-banyaknya. Tetapi kemarin malam berbeda, dia bercerita bahwa dia menyukai seorang gadis yang juga sahabatnya dan temanku. Dia memintaku untuk memberi solusi bagaimana dan apa yang harus dia lakukan. Dan aku? aku memberinya solusi agar dia mengatakan perasaan yang dia miliki kepada gadis tersebut.
Aku tidak pernah sadar, kapan rasa itu muncul, Selesai, telepon ditutup dan akupun terdiam. Aku menerawang dan aku merasa akan kehilangan lelaki itu setelah mendengar ceritanya. Dia sahabatku, tetapi rasaku lebih dari itu.
Aku mencoba menangkis apapun yang aku rasakan, dan hari ini adalah saatnya dia mengatakan perasaannya kepada gadis itu. Aku? Aku hanya bisa menunggu kabarnya lewat teleponku malam ini.

Untuk sosok laki-laki yang selalu aku anggap abang, maaf aku memendam rasa yang tidak pernah ku sadari ternyata sudah sedalam ini. Maaf aku telah diam-diam mencintai sosokmu. Pergilah, kejar gadis impianmu! Tetapi mohon, jangan lupakan gadis lemot yang selalu membuatmu kesal saat lemot yang aku miliki ini kumat. Dan pulanglah saat kamu kecewa, aku akan membuatkan susu hangat kesukaanmu, sahabatku.

15 April 2015
Dari aku, gadis lemot sahabatmu.

Kamis, 09 April 2015

R I N D U

Rindu? Ini kata yang membuat banyak orang sesak ketika bertemu dengannya. Satu kata yang selalu berhasil membuat gelisah. Kuat dan sangat kuat. Mengikat, sesak lalu menghancurkan segala konsentrasi yang tercipta. Rindu, bukan hanya kata biasa namun kata yang bisa melemahkan hati yang dihantuinya.
Rindu? Silakan deskripsikan sendiri bagaimana menurutmu. Bagiku, yang jelas rindu adalah seperti rasa yang membiarkanmu terjepit di dalamnya. Hanya bisa apa? Mungkin hanya bisa membuatmu mengeluarkan butir-butir bening dari mata coklat milikmu lalu berdoa agar semua bisa dengan mudah terlepas tanpa menuruti apa kemauan rindu sebenarnya.

Lalu bagaimana kamu berdamai dengan rindu yang semakin menjadi-jadi?

Itu pertanyaan sulit, lebih sulit dari soal Ujian Nasional yang aku tempuh beberapa tahun lalu. Yang jelas rindu adalah masalah yang sangat sulit terpecahkan. Terlebih lagi saat kita merindui orang yang jelas saja sudah tidak mungkin lagi kita sentuh. Tetapi hanya satu yang bisa aku lakukan ketika rindu mengetuk hatiku, yaitu melukis lekuk wajahmu di pejaman mataku. Walaupun itu belum membuat rinduku hilang. Setidaknya aku berhasil menemukan bayangan seseorang yang sedang ku rindukan bukan?

Lalu kalau sudah begitu bagaimana ?

Terlalu banyak tanya soal rindu, bahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah muncul. Lebih tepatnya jarang sekali muncul. Bukankah itu hanya tentang satu kata yang dengan mudah sekali diucapkan oleh semua orang?

Coba ucapkan!

Rindu...

Rindu...

Rindu...
Mudah kan?

Tetapi mengapa sulit sekali untuk dideskripsikan? Ntahlah.

Jangan salahkan Rindu ketika memasuki hatimu terlalu dalam. Dia adalah rasa yang begitu suci dan polos. Biarkan saja, mungkin dia hanya ingin mengajakmu bernostalgia atau hanya sekadar ingin mengajakmu bermain dengan bayang-bayang seseorang.

Menganti, 9 April 2015
Tentang R I N D U.

Selasa, 10 Februari 2015

Siapa Yang Salah dan Siapa Yang Kalah ?

Sekarang siapa yang kalah ?
Menatap hadirku saja enggan, apalagi menatap mataku. Padahal aku hanya lewat dimuka wajah polosmu sekilas, tapi dirimu tetap memalingkan muka. Jika memang ingin melihat, mungkin saja hanya memasang wajah datar, senyummu ? tersunggingkan di bibir saja tidak! Lalu siapa yang salah dan siapa yang kalah ?

Pepatah "habis manis sepah dibuang" kali ini sangat cocok denganku. Mungkin memori otakmu sudah lama eror sehingga tidak pernah mengingat bagaimana kamu menjujungku dengan tinggi dan sangat membutuhkanku dulu. Tapi kali ini nyatanya, melihat bola mataku saja kamu tak ingin. Lalu siapa yang salah dan siapa yang kalah ?

Hanya karena sesuatu hal, kamu pergi. aku tidak pernah menyesal tentang kepergianmu. Tapi yang aku sesalkan, kenapa aku harus menjalin sesuatu denganmu waktu itu. Sekarang, kita sangat jauh bahkan untuk kenalpun sepertinya sudah tidak lagi. Yang dulunya teman, sekarang melihatku saja kamu seperti sangat ketakutan. Apa aku menjijikan ? Atau mengancam hidupmu ? Lalu siapa yang salah dan siapa yang kalah ?

Berbagai cara aku mencoba untuk berbaik hati, membuka pertemanan agar tidak memutus tali silaturahmi. Tetapi kamu tetap diam, bahkan berjalan pergi. Hah, sungguh. Hey aku hanya ingin berteman saja !

Kalau sudah seperti ini, siapa yang salah dan siapa yang kalah ?

Menganti, 10 Februari 2015
Siapa yang salah dan siapa yang kalah ?

Jumat, 09 Januari 2015

Rasa Dibalik Ketidakmungkinan.

Saat rasa terhalang oleh ketidak mungkinan hanya ada satu cara yang bisa dilakukan, berdoa agar suatu saat menjadi mungkin.

Langit sore kali ini menemaniku menunggu seseorang di rumah Allah, sedikit cemas karena seharian penuh tidak melihat sosok yang ditunggu-tunggu berseliweran seperti hari-hari biasanya. Bersama gurauan teman-teman kampusku, aku mencari-cari tanda kehadiran orang itu. Satu menit, dua menit, lima menit, lima belas menit, ah biasanya dia selalu muncul disaat-saat waktu sholat Ashar seperti ini, tapi hari ini tidak.

Ntah pada menit keberapa, laki-laki dengan cara berjalan yang khas, yang sudah aku hafal betul cara berjalannya benar-benar muncul. Aku mendongak, tersenyum dan menunggunya berjalan ke arah rumah Allah tempat aku menunggunya. Aku melihatnya berhenti di sekumpulan orang yang ramai, memang dia adalah laki-laki yang pandai bergaul menurutku. Aku selalu tidak pernah bosah melihat caranya berbicara dan memulai percakapan dengan orang lain, apalagi caranya berbicara dan berdialog menggunakan bahasa Inggris, aku sungguh tidak pernah bosan.

Lama aku memandangnya dari kejauhan, dia tidak beranjak dari tempat berhentinya sekarang. Hingga pada menit ke-ntahlah, aku sudah tidak menghitung menit-menit, dan detik-detik yang berdetak di jam tangan milikku, laki-laki itu berjalan. Dia berjalan lurus, berbelok dan.... Tunggu-tunggu, dia tidak sendirian. Dia bersama seorang perempuan yang berjalan di belakangnya, laki-laki itu membawa sebuah helm yang aku yakin betul bahwa itu helm milik perempuan itu. Dan aku tahu betul, lelaki yang ku tunggu tidak berjalan ke arah rumah Allah tempat aku menunggunya. 

Sore ini, aku melihat dua orang manusia berbeda jenis, berdua di depan mataku, diantara capung-capung yang beterbangan, menaiki sepeda motor yang sama, berjalan menjauh dari mataku, membungkamkan guyonan-guyonan bersama teman-temanku.

Ketika rasa kagum membuncah tak karuan. Ketika rasa kagum itu berubah menjadi lebih dari sekedar kata "kagum". Dan ketika keadaan berkata bahwa tak mungkin untuk menyatukan rasa yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Mungkin salah satu pilihannya adalah berdoa agar rasa ini berada pada tempat yang tidak pernah salah untuk ditempati, berdoa agar kemungkinan-kemungkinan terbaik dan terburuk yang terjadi tidak membuat lupa diri.

Surabaya, 9 Januari 2015
Pengagum Rahasiamu.