Gresik, 4 Maret 2016
Hai, malam ini aku ingin bercerita. Maaf, aku tidak bertanya tentang kabarmu terlebih dahulu. Karena yang aku tahu, kabarmu hari ini baik-baik saja. Tapi, setiap menitnya aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku juga tidak akan memperkenalkan diriku, karena aku tahu bahwa kamu sudah mengenalku. Hanya saja sebagai teman, bukan sebagai pengagummu yang hanya berani mendoakanmu dan melihat punggungmu dari belakang. Oke, sekarang bolehkah aku bercerita? Menceritakan apa yang aku rasakan selama hampir 6 bulan terakhir ini. Mari baca ceritaku!
Awalnya, aku tidak pernah beranggapan bahwa semuanya akan berubah, Terutama rasa yang tiba-tiba datang di 6 bulan terakhir ini. Semenjak teman-temanku dan bahkan bisa disebut juga dengan teman-temanmu bersemangat sekali menjodoh-jodohkan aku denganmu, aku memiliki rasa yang berbeda terhadapmu. Padahal sama sekali aku tidak pernah berfikiran bahwa semuanya akan terjadi. Kamu yang pernah datang ke rumah dengan alih-alih mengantarku pulang. Ibu dan Bapak bahkan Mbah Kakungku yang telah kamu buat nyaman dengan perbincangan singkat sore itu. serta kebaikan-kebaikan yang selalu kamu hadirkan untukku bahkan untuk orang lain telah menjadikan aku sebegini kagum atau bahkan lebih dari sekadar rasa kagum pada saat ini. Yang ku tahu itu.
Setahuku, kamu orang yang sangat baik. Lelaki sederhana yang selalu ringan tangan membantu siapapun yang membutuhkan bantuanmu, bertanggung jawab, dan kalem. Lelaki yang sangat rapi dan bersih, serta tak ketinggalan sisi religiusmu yang ntah membuat aku jatuh cinta. Apalagi kekonyolan dan kehumorisanmu yang membuat aku selalu tertawa. Ah, Tuhan sangat baik sekali telah menciptakanmu.
Oh iya, aku ingin bercerita. Aku sedang cemburu akhir-akhir ini. Cemburu karena aku tidak bisa menikmati leluconmu seperti teman-teman menikmati leluconmu biasanya. Tapi, tak apa. tak masalah buatku. Tapi ada satu yang membuatku sedang tidak baik-baik saja. Yaitu ketika kamu guyon dengan salah satu sahabatku. Menurutku kalian tanpa sungkan mengumbar tawa yang membuat hatiku sakit saat melihat kalian tertawa lepas bahkan berdiskusi serius. Ah, tahukah kalian berdua bahwa kalian selalu merubah mood baikku menjadi buruk. Membuatku tak enak melakukan apapun, membuatku malas berbicara bahkan malas melihat kalian dan ujung-ujungnya membuatku pergi dari kalian pada saat kita selokasi. Siapa yang salah saat semua itu terjadi? Aku? Kamu? Atau sahabatku? Aku tidak tahu. Tapi jangan salahkan aku jika cemburuku terlalu. Karena semuanya terjadi begitu saja tanpa bisa aku kontrol. Aku tidak ingin melarang siapapun untuk menikmati leluconmu, asalkan aku ikut menikmati leluconmu. Sudah itu saja!
Bolehkan aku memberitahumu, kamu adalah laki-laki yang selalu berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak lalu menangis sesak dalam satu waktu yang jaraknya hampir bersamaan. Kamu adalah lelaki yang berhasil membuatku kagum lalu kesal saat melihat tingkahmu dalam satu waktu yang jaraknya hampir bersamaan. Bagaimana bisa kamu melakukannya? Aku selalu bertanya-tanya. Atau mungkin hanya perasaanku saja yang membuatku menjadi seperti ini. Ntahlah...
Terakhir.
Sebetulnya, aku tahu bahwa kamu tahu kalau aku menganggumi sosokmu, hanya saja aku tahu bahwa kamu tidak peduli padaku. Tak apa, tak masalah. Tapi, ijinkan aku untuk merapal namamu dalam doaku dan menyimpan rasa ini sendirian. Biarkan, tidak perlu kamu peduli dan membalas. Aku tidak memaksa. Yang jelas, aku sangat bersyukur sekali kepada Tuhan karena telah menciptakan lelaki sederhana sepertimu meski bukan untukku.
Untukmu,
Lelaki sederhana yang hanya bisa kulihat tanpa berani ku sentuh,
Alhamdulillah, Allah telah baik menciptakanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar